“Raja sudah punya banyak mainan. Dari opa. Daddy Sultan juga beliin Raja mainan banyak. Keyut juga. Kamar Raja sudah penuh mainan. Nanti Raja bingung mainnya.” “Wah, banyak sekali ya, mainan Raja?” Marita memutar langkah, kemudian berjalan menjauh. Beberapa kali hela napas panjang wanita itu lakukan. Ada rasa ingin masuk dan ikut berbincang di dalam sana, namun sesuatu menahannya. Dia tidak bisa berpura-pura seperti tidak terjadi apapun, seperti yang Diana lakukan. Adik iparnya itu ... bagaimana bisa terdengar seperti seorang nenek yang begitu menyayangi cucunya? Padahal Diana juga membenci Kansa. Dia tahu itu. Bagaimana bisa dia berubah secepat itu? Ah, mungkin Diana hanya sedang berpura-pura baik, karena ada sang papa. Ya, pasti begitu. Marita menggerakkan kepala turun naik—membenarka

