Bab 92.-2

700 Kata

Lipatan di kening pria itu muncul seiring dua alis yang bergerak hingga mengerut. Orang tuanya datang? Ada perlu apa? Sultan menghembus napas pelan. Menoleh, pria itu kemudian berkata. “Ayo, kita masuk.” “Itu … mobil siapa? Kakek atau—” “Papa.” Sultan menjawab sebelum Kansa menyelesaikan kalimat tanya tersebut. “Jangan khawatir. Mungkin papa mau ngobrol soal bisnis.” Sultan menarik paksa kedua sudut bibirnya. Kansa mengedip. Mendadak perasaannya tidak enak. Ekspresi wajah gadis itu berubah tegang. Kansa menelan saliva susah payah. Selama menikah dengan Sultan, belum pernah ada momen menyenangkan jika berhubungan dengan orang tua pria tersebut. Kansa tanpa sadar sudah meremas-remas telapak tangannya. Kakinya terasa enggan untuk bergerak. Seolah tahu akan ada hal buruk yang terjadi jika

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN