Kansa menarik langkah maju. Mengintip tampilan layar pada telepon genggam di tangan Sultan. “Aku akan mengurusnya,” ujar Sultan setelah membaca judul artikel dengan gambar dirinya serta Kansa. “Kamu tidak akan bisa membungkam media yang sudah terlanjur curiga. Sekarang juga buat klarifikasi bersama Nabila,” perintah Bagus Atmadja pada sang putra. “Kamu juga harus minta maaf pada mereka. Kamu tidak menepati perjanjian kita. Kamu tahu apa yang orang tua Nabila katakan? Mereka memilih kita hancur bersama. Aku tidak peduli mereka hancur, tapi tidak dengan kita. Kehancuran mereka tidak seberapa dibanding kita.” “Seharusnya kamu paham resikonya. Sekarang cepat hubungi mereka. Minta maaf dan minta Nabila buat klarifikasi bersama.” “Tidak, “ tolak Sultan membuat sepasang mata sang mama melot

