“Tidak benar. Kansa bukan pelakor. Cukup itu yang kamu tahu.” “Ba-baik, Pak.” “Minta orang kita untuk terus memeriksa berita yang beredar. Jangan sampai ada satu pun berita seperti itu muncul lagi.” “Baik, Pak. Saya sudah membicarakan soal itu. Nanti akan saya ingatkan sekali lagi.” “Ya sudah. Kabari lagi hasilnya.” “Baik, Pak. Selamat malam.” Sultan menurunkan ponsel. Pria itu menghentak napasnya keras-keras, seolah dengan melakukan hal itu, ia bisa menjadi lebih tenang. Seakan hentakan napasnya itu membawa keluar amarah di dalam daada. Sultan mengambil kopernya. Pria itu berjalan masuk dengan langkah gontai. Wajahnya tampak begitu lelah. Bukan lelah fisik yang sedang Sultan rasakan, tapi lelah pikiran. Pria itu tertawa sambil geleng kepala. Hanya satu orang saja membuat hidupnya

