Kansa membuat ekspresi wajah ngeri mendengar kata penutup sang teman. “Kok mukamu gitu? Apa salahnya jadi model? Model kan tidak harus pakai pakaian mini. Kamu bisa jadi model pakaian muslimah. Sekarang banyak desainer pakaian muslim. Kamu tidak tahu?” “Tahu, tapi aku?” Kansa menunjuk wajahnya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. “Seperti Jakarta kekurangan model saja. Yang ikut les modeling, trus masuk agensi saja banyak, Niken.” Niken mengusap leher terbukanya. Gadis itu memperlihatkan cengiran. “Iya juga, sih. Ya sudah, kamu lanjut jadi hacker saja deh. Tolong hancurkan mafia-mafia di luar saja. Buka mata para penghianat bangsa. Tunjukkan kalau mereka tidak bisa mempermainkan rakyat. Selama ini mereka merasa aman karena ada yang melindungi. Mereka yang punya kuasa dan uang.” “Beso

