“Mbak Kansa itu menantu Ibu. Tolong jangan sebut anak babu. Kasihan.” “Kamu ….” Marita menggeram. “Jeng, sudah dulu. Nanti aku kabari hasil penyelidikanku. Ini ada babu yang berani kurang ajar.” Begitu menyelesaikan kalimat tersebut, Marita langsung menurunkan ponsel. Mengakhiri sambungan dengan mantan calon besannya. “Kamu tadi bilang apa?” “Maaf, Bu. Sofi tidak bermaksud apa-apa.” Teman Sofi berusaha melindungi Sofi. “Um … yang saya pernah lihat sih itu ... cincin berlian sama kalung.” Wanita itu segera memberitahu. Berharap bisa meredakan kemarahan mama majikannya. “Cuma itu? Yakin?” “I-iya, Bu. Yang saya lihat cuma itu. Um … mobil. Tapi belum sempat dilihat bu Kansa. Pak Sultan membelikan bu Kansa mobil ,tapi, bu Kansa sudah terlanjur pergi duluan.” “Wah …..” Marita menghentak he

