“Istri kedua juga punya perasaan. Dia tetap seorang istri yang pasti ingin mendapat pengakuan. Kansa pasti sudah muak. Makanya dia memilih pergi. Atau, mungkin mereka bertengkar lalu pria itu mentalak Kansa? Makanya Kansa pergi.” Adam menggerakkan kepala turun naik beberapa kali. “Bisa jadi. Toh cerai pun dia tidak dapat apa-apa.” “Kalau begitu aku tidak akan sedih lagi. Keputusan Kansa pergi sudah paling tepat. Aku yakin dia akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik. Yang hanya akan menjadikan dia satu-satunya.” Gadis yang beberapa waktu lalu menangis itu kini tersenyum lebar. “Dimanapun sekarang Kansa berada, aku akan berdoa untuk kebahagiaannya. Suatu saat nanti, aku yakin dia akan membalas setidaknya email kita. Bukankah begitu? Waktu wisuda kemarin dia jelas bilang kalau aku sahab

