“Itu tidak mungkin.” “Kek, bukankah itu lebih baik dibanding setelah mengumumkan perceraian, lalu mereka mengetahui penyakit Nabila? Mereka akan berasumsi aku menceraikannya karena dia sakit. Aku rasa itu tidak akan baik untuk kita.” Sultan berusaha memenangkan perbedaan pendapat mereka kali ini. Sudah cukup. Dia tidak ingin hidupnya terus-menerus disetir, sekalipun yang menyetir adalah kakeknya sendiri. Sultan menunggu sang kakek yang tampak sedang berpikir. Terlihat dari kerutan di kening pria tersebut. Sampai kemudian sepasang bibir kakeknya terbelah. “Aku paham maksudmu. Saat ini posisi kita serba dirugikan. Pilihan kita hanya pada opsi mana yang memiliki kerugian lebih kecil, Sultan.” Pramu Atmadja mendesah. “Kalau mengikuti keinginanmu, kerugian kita akan dua kali lebih besar. Per

