“Dimana menantu kampunganmu itu, Mbak? Dari tadi ponselnya bunyi terus. Orangnya menghilang.” Ayunan kaki Sultan berhenti lalu berbelok. Pria itu urung menghampiri para pria di meja panjang. Sebaliknya, Sultan justru melangkah menuju para wanita sedang berkumpul. Suara ponsel yang berbunyi nyaring terus terdengar. “Matikan saja, Jeng. Berisik. Ganggu saja. Telinga kita lama-lama bisa tuli,” kesal salah satu keluarga Atmadja. Sudah bermenit-menit ponsel itu berbunyi. Berhenti sebentar lalu berbunyi lagi. Membuatnya kesal setengah mati. “Iya, benar. Matikan saja.” Yang lain mendukung Marita untuk mematikan ponsel milik Kansa. Marita mengambil tas milik Kansa lalu membukanya. “Biar aku saja yang terima panggilan itu. Mungkin ibu mertuaku,” ujar Sultan membuat para wanita menoleh bersamaan

