Dengan jantung berdegup semakin kencang, Kansa kembali menelan saliva sebelum menjawab. “Tidak ada.” Senyum merekah di bibir Sultan begitu mendengar jawaban memuaskan Kansa. Dia senang menjadi yang pertama dan satu-satunya. Itu artinya dia mendapatkan bibir yang masih perawan. Itu sebuah kebanggaan baginya. “Bagus. Kamu menjaga diri dengan baik. Sudah selayaknya seorang perempuan menjaga kesuciannya hanya untuk suaminya.” Sultan tersenyum sekali lagi. Tangan pria itu turun. Membuat Kansa bernapas dengan lega. “Kamu berbeda dengan Nabila. Dia tidak bisa menjaga kesuciannya.” Kansa mengatur tarikan dan hembusan napasnya pelan. Menunggu apa lagi yang akan Sultan katakan tentang kakak angkatnya. “Sayangnya aku tidak tahu dari awal. Aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya.” Sultan menarik

