Arcelia pulang ke apartemen Daniel dengan muka merah padam. Sepanjang perjalanan, ia masih bisa merasakan tatapan dan bisik-bisik mahasiswa yang menembus kulitnya. Begitu pintu apartemen terbuka, ia langsung melempar tas ke sofa dengan kasar. “Dasar nggak waras!” geramnya, sambil menjambak rambut sendiri frustasi. Daniel yang baru saja keluar dari kamar menatap dengan alis terangkat. “Ada apa lagi, Cel?” Arcelia hendak menjawab, tapi matanya langsung membelalak ketika melihat sesuatu di ruang tengah. Tepat di atas meja makan, berdiri sebuah boneka beruang putih raksasa—hampir setinggi Daniel—dengan pita merah mencolok di lehernya. Di tangannya yang besar, tergenggam papan bertuliskan: “MUNGKIN BUKAN DOSA BESAR, TAPI AKU BERDOSA BESAR PADAMU. MAAFKAN AKU SAYANG – DANTE.” Arcelia terdia

