Langit sore merona lembut, membiaskan cahaya keemasan yang menerobos tirai tipis kamar Arcelia. Udara tenang, hanya sesekali terdengar kicau burung di taman. Arcelia duduk di sofa panjang dekat jendela, secangkir teh chamomile mengepulkan aroma menenangkan di genggamannya. Pintu diketuk pelan sebelum terbuka. “Hai,” sapa Serenea sebelum kemudian masuk dengan senyum elegan khasnya, langkahnya anggun seolah membawa aura lain ke dalam ruangan. Mereka berpelukan sebentar. “Gimana kabar kamu, Celia? Maaf, aku baru sempat menjengukmu sekarang...” Arcelia tersenyum. “Hei, tidak apa-apa. Lagipula, aku baik-baik saja, Nea.” “Celia…” suara Nea terdengar lembut, namun menyiratkan ketulusan yang dalam. Ia menghampiri dan duduk di samping Arcelia. “Aku lega sekali akhirnya bisa melihatmu sendiri

