Dante mengangkat tubuh Arcelia dengan hati-hati, tubuhnya lemas tak berdaya di pelukannya. Ia menatap wajah istrinya yang pucat, bibirnya bergetar, dan luka-luka kecil mulai terlihat di tangan serta lehernya. Napasnya berat, tapi matanya tetap fokus, penuh tekad. “Celia… tahan sebentar lagi, ya. Aku akan bawa kamu ke tempat aman,” ucap Dante, suaranya serak tapi tegas, sambil melangkah cepat menuju mobil yang sudah menunggu. Di dalam mobil, Arcelia masih setengah tidak sadar, kepalanya bersandar di bahu Dante. Dante memegang setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menstabilkan tubuhnya. Napasnya terengah, namun setiap detik ia rasakan seperti berjalan di ujung tebing—satu kesalahan bisa berakibat fatal. “Dante… sakit…” suara Arcelia terdengar lirih, hampir tak terdengar. Aku

