Pagi itu, Bali masih gelap kebiruan saat Dante terbangun. Cahaya remang dari lampu meja samping ranjang memantul di dinding, cukup untuk menampakkan bayangan halus tubuh Arcelia yang meringkuk di sampingnya, dibalut selimut putih tipis yang melorot hingga ke punggung. Nafasnya tenang. Wajahnya damai. Dante tidak langsung bergerak. Ia hanya berbaring mematung, pandangannya lekat menatap wanita itu. Helaian rambut cokelat Arcelia sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan... lehernya. Ada dua tanda kemerahan di sana. Jelas. Tidak perlu ditebak apa artinya. Dante memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Sial. Apa yang ia lakukan semalam bukan sekadar lepas kendali. Itu pelanggaran terhadap batasan yang selama ini mereka jaga—meski batas itu pun semakin tipis sejak awal. Tangan

