Pintu kayu besar berukir itu terbuka perlahan, menganga pelan seperti menyambut sosok asing. Aroma khas rumah yang selama ini familiar justru terasa ganjil di hidung Arcelia. Semuanya terlihat sama, tak ada yang berubah sedikit pun—lantai marmer yang mengilap, dinding putih gading yang dihiasi lukisan-lukisan berbingkai hitam, vas kristal di meja konsol yang masih memajang bunga segar. Tapi ada yang berbeda. Bukan pada tempatnya. Melainkan dalam dirinya. Langkah kakinya bergema lembut menyusuri lorong. Bayangan dirinya terpantul samar di kaca besar di dinding, tapi Arcelia tak cukup peduli untuk melihat. Kakinya membawa ia naik ke lantai atas, ke kamar yang sempat ia huni untuk 180 hari ke depan. Tapi mungkin akan berakhir lebih cepat. Tubuhnya lelah, bukan karena perjalanan dari Bali—m

