6 • Kabar yang Menyebar Cepat

1573 Kata
Pagi itu Jakarta seperti biasa: sibuk, penuh klakson, dan orang-orang yang berjalan cepat mengejar waktu. Tapi, ada satu hal yang jauh lebih cepat dari kemacetan ibu kota—gosip. Dan pagi ini, gosip paling panas menyebar lebih cepat dari kopi yang tumpah ke pangkuan. Undangan digital berbingkai emas putih gading, dengan watermark lambang keluarga Danadyaksa, tersebar melalui berbagai grup w******p elite, email eksklusif, dan akun i********: private yang hanya bisa diakses undangan level platinum. Di bagian tengah undangan itu, dengan huruf Latin klasik yang mencolok, tertulis: “Dante Alle Danadyaksa & Arcelia Syaqueline” Bukan Caluna. Tapi Arcelia. Wanita yang selama ini hanya dikenal sebagai asisten pribadi Dante. Wanita yang tidak pernah tampil di publik. Wanita yang—menurut para sosialita—tak punya “darah biru” sama sekali. Dan dunia pun... terbakar. Sosialita ibukota mendadak punya bahan diskusi yang sangat menggugah. Grup WA para istri konglomerat mendadak ramai. Beberapa bahkan memutar otak, mencari celah agar bisa mengorek kabar dari sumber dalam. Kantor Danadyaksa Group pun tak luput dari bisik-bisik penuh spekulasi. Namun, di tengah panasnya spekulasi publik, Arcelia tetap tenang. Ia tetap datang ke kantor—meski hanya sebentar untuk mengambil beberapa dokumen. Ia tersenyum ke para resepsionis, menyapa para staf seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah namanya tidak baru saja tertera di undangan pernikahan salah satu pria paling berpengaruh di negeri ini. Dan pagi itu, ketika gosip sedang hangat-hangatnya membara, Dante mengirim pesan singkat. BOSS MENYEBALKAN “15 menit. Siap-siap. Kita akan ke butik.” Awalnya Arcelia hendak menolak. Tapi tentu saja, Dante bukan tipe pria yang bisa ditolak semudah itu. Dan kini, mereka berada di dalam mobil mewah yang melaju menuju sebuah butik pernikahan high-end yang terletak di kawasan Senopati. “Apa Bapak yakin kita harus ke butik lagi?” tanya Arcelia, menoleh sejenak. “Kenapa tidak?” jawab Dante tenang. “Semua sudah diatur. Dan kamu butuh gaun.” Arcelia mendengus pelan. “Tidak bisa pakai punya Bu Caluna saja? Sepertinya badan kami tidak jauh beda, Pak.” “Apa kamu sengaja ingin supaya aku terus mengingat Caluna, Arcelia?” “Bu—bukan begitu maksud saya, Pak. Tapi—” “Tapi?” “Mubazir jika—” “Tidak ada yang mubazir jika menyangkut keinginanku, Arcelia. Kau cukup menurutinya saja.” Mobil berhenti di depan butik bernama Maison Amary—salah satu butik pernikahan tersohor milik Amarylis Rashid, teman lama Dante sejak SMA. Ketika mereka masuk, butiknya tampak tenang, elegan, dan penuh dengan wangi lilin aroma teh putih. Amarylis atau yang akrab disapa Amary, wanita cantik berusia tiga puluhan dengan gaya chic klasik, muncul dari balik tirai satin. Matanya membulat ketika melihat siapa yang datang. “Dante?” Dante tersenyum tipis. “Hai, Amary.” “Is there something happend Dante? Aku pikir fitting terakhir waktu itu semuanya sudah oke,” tuturnya yang sepertinya belum mengetahui perubahan yang terjadi secepat kilat itu. “Kau belum menerima undanganku?” “Undangan? Amary mengecek email lewat iPadnya dan tertegun ketika membaca nama mempelai yang tertera pada undangan tersebut. “Apa—” Ia menatap Dante dan Arcelia bergantian. “Kau dan asisten pribadimu, kalian—tapi bagaimana—” Amary benar-benar tidak mengerti. “Ini rumit, Amary. Tapi, untuk sekarang, bisakah kau simpan semua pertanyaanmu itu dulu dan berikan Arcelia gaun terbaik yang kau miliki?” Amary memutar bola matanya. Ia terlalu mengenal Dante. “Baiklah. Tapi ingat, kau berhutang penjelasan padaku, Dante.” Ia menarik napas, lalu memanggil stafnya. “Raina, bawakan koleksi gaun baru kita yang baru saja launching beberapa waktu lalu.” “Baik, bu.” Tak lama kemudian, Raina datang dengan membawa sehelai gaun mewah berwarna ivory, dengan detail bordir tangan dan taburan kristal Swarovski di bagian pinggang. Potongannya pas di tubuh, sedikit mengekspos punggung—anggun dan mewah, namun tetap elegan. Amary mengambil alih gaun yang dibawa oleh Raina lalu menyerahkannya pada Arcelia. “Cobalah. Kau pasti cocok mengenakan gaun ini,” katanya ramah. “Ayo kita ke ruang ganti.” Arcelia mengangguk, mengambil gaun itu dan mengikuti Amary ke dalam ruang fitting, namun sebelum masuk ke bilik, Aline menarik tangannya perlahan. “Arcelia?” “Maaf, aku tahu ini bukan urusanku, tapi... kamu baik-baik saja?” suara Amary terdengar tulus. “Saya baik, Bu Amary.” “Tapi kalian—Astaga!!! Aku benar-benar tidak habis pikir Arcelia. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh teman bodohku itu, hah?” “Kami hanya menikah, Bu, Amary.” “I know, Arcelia. Tapi kau taku bukan itu yang aku maksud.” “Arcelia, Dante itu—” Amary menahan kalimatnya. “Aku mengenal dia dengan sangat baik dan aku paham betul pasti ada yang tidak beres diantara dia dan Caluna. Karena kau, kau tidak mungkin merebut Dante dari Caluna. Aku tahu kau bukan perempuan seperti itu dan ini ... Kau dan Dante— sama sekali tidak masuk akal, Arcelia.” “Keadaannya memang rumit Bu Amary tapi begitu lah faktanya. Aku akan menikah dengan Dante.” “Arcelia ...” Amary menatap lekat perempuan berusia 26 tahun yang ia kenal baik sebagai asisten pribadi Dante itu. Namun ia tahu, Arcelia tidak akan bicara yang sebenarnya sehingga ia berhenti untuk menuntut penjelasan. “Baiklah. Kalau kau memang tidak ingin bicara. Aku harap kau baik-baik saja karena setelah ini semuanya tidak akan mudah. Kau tahu itu kan, Arce?” Arcelia tersenyum tipis. “Terima kasih atas perhatian Ibu. Saya juga mengharapkan hal yang sama.” Amary menepuk bahu Arcelia pelan lalu ke luar dari ruang ganti tersebut. Membiarkan Arcelia untuk mulai mencoba gaun rekomendasi dari butiknya. Sebuah gaun berpotongan A-line dari bahan satin duchess berwarna ivory. Gaun itu memiliki detail bordir tangan dan taburan kristal Swarovski di bagian pinggang. Potongannya pas di tubuh, sedikit mengekspos punggung—anggun, mewah, elegan, tapi tidak mencolok. Gaun yang sangat tidak mencerminkan ‘pengantin kontrak’. Tapi... cantik. Ketika ia berbalik untuk melihat siluetnya di cermin besar, pintu bilik terbuka. Dante masuk begitu saja, dengan sangat tiba-tiba dan tanpa di minta. “Pak!” Arcelia menahan napas. “Bapak tidak tahu arti PRIVASI, ya? Ngapain masuk, sih?!” Dante menutup pintu dan menyandarkannya pelan. “Kau calon istriku, tentu saja aku boleh masuk.” “Ugh. Mungkin Bapak harus belajar tata krama.” Dante tidak menjawab. Ia hanya mendekat, matanya menyapu tubuh Arcelia yang kini dibalut gaun pengantin. Napasnya sedikit tertahan. “Kau suka?” “Jika ini pernikahan yang saya inginkan, dengan pria yang saya cintai, sudah pasti saya menyukainya, Pak. Apalagi gaun ini sangat indah.” Arcelia memperhatikan tubuhnya pada cermin besar. “Sayangnya ... tidak begitu ‘kan, Pak?” Ia mengalihkan tatapannya pada Dante. “Kau benar-benar tidak mengundang satu pun keluargamu, Ce?” Tiba-tiba saja pria itu mengganti topik pembicaraan. Mengingat hari ini undangan pernikahan mereka disebar namun tidak ada satu pun data dari keluarga Arcelia yang Dante terima. Arcelia terdiam. Wajahnya menegang, namun cepat-cepat disamarkannya. Wajahnya kembali menghadap cermin. Pura-pura sibuk dengan gaunnya. “Untuk apa? Ini bukan pernikahan yang perlu perayaan dan ucapan selamat dari keluarga, Pak.” Dante memandangnya lama. Cukup lama untuk mengerti. “Apa keluargamu tahu mengenai ini?” “Tentu saja tidak.” Arcelia menatap Dante dari kaca besar di hadapannya. “Aku tidak akan melibatkan keluargaku meski saat kabar ini sampai ke telinga mereka, mereka pasti akan murka.” Tiba-tiba, Dante menarik pinggang Arcelia. Jarak mereka mendadak nyaris hilang. “Jika sampai itu terjadi, aku yang akan menghadap orang tuamu, Ce. Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan menjelaskan segalanya.” “No. Thanks. Tapi, sungguh, tidak perlu, Pak.” Arcelia mendorong d**a bidang Dante perlahan namun penuh tekanan, membuat pelukan tangan Dante terurai. “Aku tidak ingin melibatkan Bapak dengan keluargaku. Aku bisa meng-handle-nya sendiri.” Dante menyipitkan matanya. “Pertama, aku tidak suka jawabanmu, Arcelia,” katanya tegas. “Kedua, selama menikah denganku, kau adalah tanggung jawabku. Ketiga, aku yang menginginkanmu dalam permainan ini, jadi yang berhubungan denganku atau pernikahan ini, aku yang punya kendali. Termasuk menghadap keluargamu. Mengerti?” “Aku serius dengan kata-kataku, Pak. Aku tidak ingin keluargaku bersinggungan dengan Bapak ataupun keluarga Bapak, begitu pun sebaliknya.” “Why, Arcelia?” gumam Dante pelan, namun penuh penekanan. “Saya merasa tidak memiliki alasan apa pun untuk menjawabnya, Pak. Cukup dengan membiarkan saya meng-handle bagian saya.” Dante kembali menyipitkan matanya. “Siapa kamu sebenarnya, Arcelia? Kenapa aku tidak boleh bersinggungan dengan keluargamu?” “Justru karena saya bukan siapa-siapa, dan bukan dari keluarga mana pun yang Bapak kenal, saya tidak ingin melibatkannya.” “Dan Bapak, jangan coba-coba untuk mencari tahu keluarga saya atau saya akan membatalkan pernikahan ini.” “Kamu mengancam saya?” “Tidak sama sekali, Pak. Saya hanya berusaha mengingatkan Bapak tentang batas kita masing-masing.” “Arcelia...” Rahang Dante mengeras. Namun, bahkan saat amarahnya terlihat jelas, Arcelia tetap tenang. “Pak, jika Bapak terus mendekap saya seperti ini, saya tidak bisa mencoba gaun lain yang—” Dante tampak tersadar dan melepaskan pelukannya. Matanya masih tertuju pada sosok Arcelia yang memakai gaun tersebut. “Tidak usah. Itu saja,” katanya datar. “Maksudnya?” “Mau pakai gaun mana pun, sama saja. Aku tidak peduli dan lagi pula itu tidak akan mengubah pandanganku terhadap kamu juga, Ce.” Sialan! batin Arcelia. “Good point of view, Sir. Karena akan sangat berbahaya bukan kalau sampai pandangan Bapak berubah terhadap saya?” Arcelia menyunggingkan senyum manis. Cukup untuk membuat Dante kehilangan kata-kata. Eat that, Dante. 🥂
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN