Pintu apartemen terbuka perlahan. Suara klik kuncinya terdengar jelas, menggema dalam kesenyapan yang menyambut. Tidak ada suara. Tidak ada sambutan. Hanya udara yang terasa dingin meski matahari masih menggantung di langit. Arcelia masuk, menyeret kopernya ke dalam. Tidak terburu-buru. Tidak ada tempat yang perlu ia kejar. Tidak ada siapa pun yang menunggunya sekarang. Apartemen kecil itu tak berubah: meja makan mungil, rak buku dengan susunan yang rapi, sofa abu-abu di pojok yang masih menyimpan bantal berantakan. Semua tetap sama. Hanya dirinya yang tidak lagi utuh seperti saat ia meninggalkannya tiga hari lalu. Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, memejamkan mata sesaat. Mencoba bernapas lebih dalam, lebih pelan, tapi d**a justru terasa makin sesak. Pikirannya berputar—berat, lambat, namu

