Senin pagi. Udara Ibu Kota masih sama: padat, bising, sedikit gerah. Tapi bagi Arcelia, semuanya terasa… baru. Ia berdiri di depan gedung kaca bertingkat delapan, memandang ke atas sejenak sebelum menarik napas dalam. Ini bukan gedung megah setinggi Danadyaksa Corp., tapi entah kenapa, gedung ini terasa lebih ramah. Lebih… ringan. Di tangan kanannya tergenggam tote bag berisi dokumen dan perlengkapan kerja, sementara tangan kirinya masih sempat-sempatnya merapikan kuncir rambutnya yang mulai lepas karena angin. Ia mengenakan blouse biru muda yang dipadukan dengan celana bahan warna abu tua dan kitten heels hitam yang tidak terlalu tinggi. Simple. Elegan. Profesional. Tapi juga mencerminkan siapa dirinya. “Satu langkah kecil,” gumamnya pada diri sendiri. “Mulai dari sini.” Langkah kakin

