64 • Epilogue

1508 Kata

Senja turun perlahan, mewarnai langit dengan semburat oranye keemasan. Halaman belakang rumah keluarga Danadyaksa dipenuhi aroma daging yang terbakar manis di atas panggangan, bercampur dengan tawa yang tak kunjung padam. Lampu taman baru saja menyala, menciptakan lingkar cahaya temaram di antara pohon flamboyan yang berdiri gagah. Dante berdiri dengan apron hitam di depan panggangan, wajahnya serius seolah tengah memimpin rapat direksi, padahal hanya sibuk membolak-balik daging iga. Arcelia duduk santai di kursi kayu, menikmati pemandangan keluarga kecilnya yang nyaris tak pernah benar-benar sunyi. “Papi, itu daging jangan ditekan terus, dong. Cairannya keluar semua, nanti kering kayak hatinya mantan,” celetuk Shaquila sambil menyisir rambut panjangnya. “Sha!” tegur Shaquina cepat. “Mo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN