Matahari baru merayap malu di balik tirai tipis, menebarkan cahaya keemasan lembut ke kamar mereka. Arcelia masih meringkuk di ranjang, rambut panjangnya terurai acak namun tetap anggun. Jemarinya memainkan ujung selimut saat Dante keluar dari kamar mandi dengan kemeja putih yang lengannya dilipat rapi. “Dante…” panggilan itu lirih, tapi sarat nada manja. Pria itu menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Hm?” Arcelia menatapnya dengan mata berbinar, meski wajahnya masih sembab kantuk. “Aku… tiba-tiba pengen strawberry. Tapi bukan sembarang strawberry.” Dante sudah bisa menebak. Ia berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang, jemarinya menyusup ke rambut istrinya. “Kali ini dari mana lagi, hm? Kemarin aku sudah panen langsung dari Bogor, kamu masih sempat bilang rasanya ‘kurang manis’.” Arcel

