110. Melamar Pekerjaan

1766 Kata

Pagi itu udara terasa gerah meski matahari baru setengah naik. Di dalam sebuah rumah sederhana, suasana tegang mulai menyeruak sejak Dias membuka pintu kamarnya. Rambutnya masih berantakan, mata sayu karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan banyak hal. Baru saja ia melangkahi kakinya menuju kamar mandi, suara ibunya sudah menyergapnya. "Di, penagih hutang itu siang nanti pasti datang lagi. Ibu belum ada uang. Gimana ya?" suara Sri Widarti terdengar khawatir, bahkan sedikit bergetar. Dias menghela napas panjang, meraih segelas air putih di meja. "Ya udah sih Bu, janjiin aja minggu depan. Bilang aja aku lagi cari kerja. Mereka ngerti kok." Sri Widarti gelisah, berjalan mondar-mandir. "Tapi kamu jadi kan kerja di kantor Kaisar?" Dias menegakkan tubuhnya. "Siang ini aku mau ke sana. Ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN