Malam itu terasa lebih hening dari biasanya. Angin berembus lembut lewat celah jendela kamar besar yang seharusnya menjadi tempat istirahat nyaman bagi seorang lelaki yang terbiasa bekerja keras seharian. Kaisar merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size. Matanya terbuka menatap kosong ke arah langit-langit putih yang terasa begitu asing. Kamar itu sepi. Terlalu sepi. Ia menolehkan kepala ke sisi kanan ranjang, tempat yang biasanya dipenuhi dengan keberadaan Alea. Bantal itu masih rapi, seakan tidak pernah disentuh. Selimut di sisi kanan pun dingin tanpa jejak tubuh hangat istrinya. Kaisar mengulurkan tangan, menyentuh kosong bantal tersebut. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. “Sepi banget,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Sudah lebih dari dua min

