Pagi ini matahari baru menyingkap sedikit dari balik atap rumah-rumah, sinarnya menembus jendela dapur rumah Kaisar. Alea berdiri di sana dengan apron sederhana, sibuk mengiris bawang merah sambil sesekali mengaduk sayur di atas kompor. Hidungnya masih menangkap aroma bawang putih tumis yang semerbak, tapi wajahnya datar—penuh beban pikiran. Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari pintu depan. Alea menghela napas. “Siapa lagi pagi-pagi begini bertamu," gumamnya malas mengingat di hari sebelumnya Dias lah yang datang. Ketukan itu semakin keras, diiringi suara nyaring seorang wanita. “Kai! Kaisar! Bukain pintunya! Ini aku, Dias!” Mata Alea otomatis memutar. Ia tahu betul suara itu. Dengan cepat tangannya mematikan api kompor, lalu berdiri terpaku di dapur. Ia tidak ingin melangkah

