Kaisar menutup pintu kamar pelan setelah kembali dari dapur. Di tangannya ada satu gelas s**u hangat, uapnya masih mengepul kecil. Ruangan terasa remang, hanya diterangi lampu tidur yang temaram. Alea sedang duduk bersandar di sandaran ranjang dengan selimut menyelimuti hingga perut. Pipi Alea terlihat pucat, tapi matanya tetap teduh, seperti sedang berusaha kuat menahan rasa tidak nyaman yang terus datang. “Diminum mumpung masih hangat,” ujar Kaisar lembut sambil mengulurkan gelas itu. Alea menerimanya pelan. “Makasih, Mas.” Kaisar menghela napas lega. Sejak dokter memastikan Alea hamil, kehidupannya berubah dalam sekejap. Ia menjadi lebih cerewet, lebih protektif, lebih sensitif. Semua demi bayi kecil yang masih dalam usia minggu-minggu awal tapi sudah mampu mengguncang seluruh dunia

