Sudah menjadi kebiasaan Alea yang selalu bangun pagi untuk memulai rutinitas sehari-hari. Seperti halnya pagi ini ketika Alea berdiri di dapur dengan celemek yang sudah melekat di pinggang, memotong bawang merah dengan tenang seperti hari-hari biasanya. Namun begitu wangi tumisan naik dari wajan, sesuatu di tubuh Alea bereaksi cepat. Aromanya menusuk hidung terlalu tajam. Tenggorokannya terasa panas, mulutnya asam, dan perutnya bergejolak seolah ada sesuatu yang membalik dari dalam. Alea buru-buru menutup mulut dan membungkuk. “Lea? Kamu kenapa?” tanya Kaisar dengan cepat, ketika pria itu baru saja keluar dari dalam kamar. Alea tak sempat menjawab. Ia sudah mencondongkan tubuh ke arah bak cuci piring, memuntahkan isi perutnya yang sebenarnya belum terisi apa-apa sejak bangun tidur. Ka

