Aroma teh melati menguar lembut di ruang keluarga. Alea dan Kaisar duduk di sofa panjang, menghabiskan waktu berdua untuk menonton televisi setelah makan malam bersama. Suara tawa dari acara komedi mengisi ruangan, tapi keduanya tidak benar-benar memperhatikan. Alea duduk bersandar, sesekali menyeruput teh di tangannya. Sementara Kaisar tampak lebih fokus pada layar, padahal pikirannya melayang ke banyak hal. Ia masih belum bisa benar-benar tenang setelah pertemuan dengan papanya siang tadi. Namun, ketenangan semu itu terusik ketika Alea memecah hening. “Kenapa Dias kamu pecat dari kantor?” tanyanya tiba-tiba. Kaisar sontak menoleh cepat. Wajahnya berubah kaku, napasnya tertahan. “Kamu tahu dari mana?” suaranya terdengar serak dan agak tinggi nada. Alea menatapnya lekat. “Dias menemui

