Siang itu rumah sakit tampak lebih lengang dari biasanya. Sinar matahari menembus kaca besar ruang tunggu, membentuk garis-garis hangat di lantai marmer putih. Alea berdiri di depan ruang bidan Ratna sambil menekan d**a, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak karuan. Bukan karena takut pada pasien atau darah, tapi karena firasatnya sendiri. Sudah hampir dua minggu ia melewatkan jadwal tamunya. Dan sejak pagi tadi, rasa mual yang datang setiap mencium aroma tertentu, terutama parfum Kaisar, membuatnya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tengah tumbuh di dalam tubuhnya. “Lea?” suara lembut Ratna memecah lamunannya. “Kamu kok bengong di depan pintu? Ada pasien lagi?” Alea tersenyum gugup. “Bukan, Rat. Aku… mau kamu periksa aku.” Ratna menaikkan sebelah alis, seakan tahu apa yang a

