Suara mesin mobil berhenti di depan rumah membuat Alea yang tengah merapikan meja makan menoleh. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Suara langkah berat yang tergesa di teras rumah. Alea berjalan ke arah pintu, menatap lewat celah kaca sebelum akhirnya membukanya. Wajah suaminya terlihat kusut, matanya lelah, dan tanpa sempat bicara apa-apa, Kaisar langsung menubruk tubuhnya dalam pelukan erat. “Aduh, Kai!” seru Alea kaget. Tubuhnya tertarik dalam dekapan yang begitu kuat hingga ia hampir kehilangan keseimbangan. Pelukan itu lama. Terlalu lama untuk ukuran sapaan biasa. Alea sempat membeku, tapi kemudian merasakan sesuatu dalam genggaman Kaisar; getar halus, semacam rasa takut yang disembunyikan. “Kai, ada apa?” tanya Alea pelan, berusaha mengintip wajah suaminya. Kaisar tak

