Setelah resmi mengundurkan diri dari rumah sakit, Alea mendapati hari-harinya terasa sangat panjang dan membosankan. Pagi yang biasanya dihabiskan untuk memeriksa pasien atau membantu dokter kini hanya diisi dengan menyapu, memasak, atau duduk diam menatap kosong televisi yang tidak benar-benar ia tonton. Hanya berteman dengan asisten rumah tangga yang di sore hari pulang ke rumahnya sendiri. Pagi ini, Kaisar baru sempat melirik istrinya setelah selesai mengenakan kemeja kerjanya lalu keluar kamar dan duduk di ruang makan. Melihat istrinya yang duduk di salah satu kursi dengan tidak bersemangat. “Le?” panggil Kaisar pelan. “Kamu kenapa?” Alea mengembuskan napas panjang, tidak langsung menjawab. “Nggak apa-apa.” “Kamu nggak bisa bohong kalau gitu,” Kaisar meraih tangan istrinya, menggen

