"Dari mana aja, Raj?"
"Betewe, kok, nggak sebut mas lagi, Ra? Kan, selama ini udah mulai biasa manggil mas. Apa karena ... kamu mulai sadar aku nggak becus jadi suami?"
Humaira menghela napas, menatap lembut lelaki yang sejak tadi siang meninggalkan rumah, lalu baru kembali ketika matahari sudah berganti tugas dengan bulan.
"Mas habis dari mana?"
Rajen sontak tersenyum.
Humaira melihat raut penat, lelah, dan sejenisnya di tampang Rajen.
Yang lalu merogoh saku, Rajen mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, kemudian menjulurkan sebuah benda berkilau ke hadapan wanita berdaster denim itu.
Bibir Rajen mengulas senyum.
Huma tidak. Matanya justru memicing.
"Sini, Mas pakein," seloroh Rajen lagi, membalik tubuh Humaira yang semula berdiri berhadapan dengannya.
"Apa ini?" Huma menyentuh kalung emas kuning di leher, sedang Rajen pasangkan. "Mas—"
"Imitasi, kok. Pake aja. Nanti kalo udah item, Mas beli baru."
What?!
Sontak Huma berbalik tanpa Rajen usai memasangkan kalung indah di leher istrinya. Huma pegang kalung itu.
"Kamu gila, ya?! Kalau punya uang di kondisi kita yang sekarang, beli perhiasan apalagi imitasi itu hal yang—Rajen!"
Pipi Huma dikecup.
Suaminya lantas berlalu.
"Rajendra!"
Dan si kecil yang baru saja memasuki ruang tamu, mendengar teriakan sang mamud, ikut berkicau, "Lajendla!"
Gubuk mereka kembali berisik.
***
Rajen menatap tubuh sang istri yang malam ini tidurnya memunggungi. Huma pasti marah karena ulah Rajen beberapa saat lalu—soal perhiasan.
Dan di tengah ranjang ada bocah laki-laki umur lima tahun, si cadel Lahar Bara.
Rajen menatap putranya.
Ini hasil dari perbuatan Rajen di hari itu.
Dulu.
Ah ... panas. Rajen merasa pipi dan tubuh bagian lainnya memanas. Dengan detak jantung yang kini tidak sesuai ritme normal, debarannya meningkat.
Seketika tidur Rajen jadi gelisah, dia tak bisa kembali rebah dengan nyaman. Rajen sontak terduduk, datang bergumul-gumul rasa asing yang menyergap, tetapi juga terasa familier. Rajen menelan ludah. Dirinya b*******h.
Aliran darah dirasa berdesir cepat, bermuara ke satu titik. Perbatasan kaki kiri dan kanan, di sana ... Rajen merasa terpantik api paling berbahaya seumur hidupnya. Tapi ini terlalu tiba-tiba.
Bagaimana bisa?
Rajen sedang demam saat itu, baru dirasa membaik, lalu meneguk air minum yang tersedia di nakas sisi tempat tidur. Tak berselang lama, segalanya sudah jadi begini sekarang.
Tenggorokan Rajen tercekat, rasanya sangat tidak nyaman, apalagi detak jantung menggebu-gebu. Keras sekali. Tiap detiknya dari sekian menit lalu.
"Bu ...."
Dari luar, samar suara itu terdengar di sini.
"Bu! Huma masuk, ya?"
Sekarang begitu jelas. Lembut dan menyenangkan, suara perempuan. Humaira.
Detik di mana pintu terbuka, Rajen sudah telentang di lantai, sejak tadi mencari sesuatu yang dingin karena tubuhnya seakan sedang terbakar. Kini suara lain mengiringi, bukan hanya suara pintu, tetapi langkah kaki.
"Ibu?"
Terus itu yang dipanggil. Sejatinya, Rajen sedang tidak keruan. Dia merintih. Mungkin perempuan itu mendengar walau tidak melihat karena posisi Rajen terhalang ranjang.
Oh, menyusul suara 'brak' dari daun pintu yang ditutup kuat, lalu suara 'klik' bunyi pintu dikunci, kemudian vokal histeris wanita tadi—menyebut nama ibu, dan meminta agar pintunya dibukakan pada siapa pun orang di luar kamar ini.
Rajen mendesis.
Hari itu ... awal mula sebelum segalanya terjadi. Rajen lantas bangkit. Tatapannya langsung bersirobok dengan seorang gadis bernama Humaira, Rajen tahu siapa gerangan.
Putri ART di kediaman orang tuanya, putri si mbok yang suka bantu-bantu di rumah ini. Dia, Humaira Asyila.
Langkah Rajen dimulai, setapak demi setapak mendekat pada sosok cantik yang tak sudi Rajen akui betapa cantiknya Humaira. Sungguh, Rajen membenci wanita itu. Gadis miskin yang sering membuatnya repot, sampai harus merasakan yang namanya perasaan asing di dadaa.
Humaira ....
"Rajen, maaf. Tadi itu—"
Sayang, sudah terlambat.
Rajen sedang gelap mata, bahkan mulai meragukan bila ini nyata. Satu-satunya yang menjadi fokus Rajen sekarang adalah bibir itu. Bibir yang Rajen pertemukan dengan bibirnya.
Gerak Rajen begitu cepat dalam ketidak keruan yang dirasa, menarik tengkuk Humaira, memangkas tutur kata dengan ciumannya. Yang kini bisa Rajen rasakan adanya gerak berontak dari sang gadis.
Kakak kelas Rajen di sekolah, yang kini sudah jadi mahasiswi. Sementara, hari itu Rajen masih SMA kelas 3. Mendekati kelulusan.
Humaira melenguh, tetapi itu bentuk protes. Ingin dilepaskan. Namun, Rajen mengerahkan tenaga yang cukup saat ini. Ada dahaga yang terasa sedikit demi sedikit terhapuskan, tetapi semakin timbul perasaan menuntut ingin lebih dari sekadar berpagutan.
Satu sisi, gerak serampangan Rajen yang menerkam bibir Humaira mencerminkan betapa ini adalah ciuman pertamanya. Rajen, 18 tahun. Menyesap sesuatu yang belum sepantasnya dia rasakan, dengan isapan orang kehausan.
Oh ... ini oase.
Tubuh Rajen serasa mendapatkan penawarnya dari rasa panas, sakit, dan tidak menentu yang mengekang di beberapa menit lalu.
Meski sosok yang menjadi pelebur dahaga Rajen itu tidak menginginkan dirinya ada di posisi ini, terkungkung. Yang kini bahkan tangan Rajen sudah bergerilya menyapa dadaa wanita.
Emh!
Suaranya. Pekikan tertahan Humaira. Protes yang terbungkam. Sebab, tak Rajen lepaskan.
Di titik mereka butuh napas, Rajen praktis melepas, tetapi hanya bibir yang bebas. Tubuh Humaira dipenjara oleh dekapan Rajendra.
Tidak.
Humaira tidak diam saja. Dia mendorong, melakukan segala cara agar bisa melarikan diri, termasuk berteriak meminta tolong. Namun, entah ... Semesta sedang tidak berpihak kepadanya.
Walau kakak kelas, walau usia lebih tua dua tahun dari Rajen, Humaira kalah telak.
Karena ini Rajen yang sudah bertumbuh, terkhusus soal tubuh. Dia tinggi dan berotot selayak remaja laki-laki usia 18 tahun. Tapi Humaira memiliki perawakan yang lebih kecil dari Rajendra, juga tenaga yang tidak seberapa. Hanya bisa berteriak sampai serak.
Namun, ke mana orang-orang di rumah besar ini? Siapa tadi yang membuat pintu kamar Rajen tertutup dan menguncinya, membuat Humaira terjebak di dalam sini?
"Rajen, jangan ...." Humaira berharap ini hanya mimpi.
Lain dengan Rajen, dia merasa ini sedang bermimpi. Karena tidak mungkin baginya menginginkan gadis ini. Tidak mungkin dirinya semakin teperdaya oleh hasrat hingga begitu suka menciumi Humaira, mendamba aromanya, juga memuja tubuh yang tengah dirinya telanjangi.
Hari ini.
"Raj—!" Oh, tidak.
Humaira tak kuasa lolos. Ini terlalu mengungkung. Saat dirinya berhasil lepas, tetapi Rajen dua kali lipat lebih berhasil memenjarakan.
Detak jantung mereka sejatinya sama giras, sama kebutnya. Hanya saja, berbeda makna.
Rajen merasakan dadanya bergemuruh menggebu-gebu, detik di mana kini sosok Humaira sudah tanpa sehelai kain pun di bawahnya. Tanpa melirik mata indah itu mengeluarkan cairan bening yang berupa tangis.
Rajen menyentuh lembut kulit Humaira dengan punggung jari.
"Jangan ...."
Suaranya sangat merdu, terdengar pasrah. Padahal, penuh permohonan—Huma merasa hanya ini cara yang tersisa agar dibebaskan.
"Jangan, Rajen."
Tapi Rajen menginginkannya. Tapi Rajen berpikir bahwa ini fantasi terburuk mengenai kehidupan erotisnya sebagai remaja puber yang pernah bermimpi, kali ini tak bisa Rajen bedakan nyata atau tidaknya.
Rajen menginginkan Humaira.
Gadis yang dirinya benci ....
Gadis yang membuatnya kacau ....
Gadis yang tak akan pernah sudi Rajen akui betapa indahnya seluruh yang Humaira miliki di tubuh ini.
Argh!
Humaira yang berteriak.
Sakit, katanya.
Tapi Rajen tidak.
"Rajen, stop!"
Napas Rajen mulai berembus pendek-pendek, tubuhnya sudah berkeringat walau embusan sejuk AC masih menerpa. Sempat Rajen tahan helaan napas itu, detik di mana dia ....
"Rajen!"
Membuat Humaira merasa dirinya terbelah, langsung menancapkan kuku di punggung Rajendra, dengan air mata yang kembali jatuh dari pojok mata.
Sementara, Rajen bergetar. Merasakan sesuatu yang begitu asing—tak pernah sekali pun dia rasakan dalam mimpi basahnya—ini terasa sangat nyata.
Damn.
Rajen tidak lagi menatap wajah Humaira, fokusnya terpecah, kini hanya tertuju di satu titik.
Yang paling intim.
Yang telah Rajen buat bukan sekadar bertemu, tetapi menyatu. Dengan perempuan yang aromanya Rajen hidu dalam-dalam, merasakan desir hangat di dalam dadaa—juga sesuatu di area yang tak bisa Rajen sebutkan lokasi tepatnya.
Bukan lagi Rajen yang merintih, tetapi Humaira.
Dan kejadian itu sudah lima tahun berlalu, sekarang bukan lagi Rajen yang berusia 18 tahun, bukan lagi anak SMA. Melainkan ... Rajen si kepala rumah tangga di dalam gubuknya.
Humaira pun sudah berusia 25 tahun sekarang.
Dia masih marah. Seluas-luasnya hati Huma, kelakuan Rajen betul-betul memancing emosi terpendam sebagai istri. So, tidak ada sarapan pagi itu.
"Uangnya habis dikasih ke penipu, semalam dapat uang entah dari mana pun malah dibeliin kalung imitasi."
Begitu. Nyindir suami. Dan Huma tutup pintu kamarnya cukup keras, sontak anak laki-laki mereka terlonjak sedikit di kasur—masih lelap tadi.
Sementara, di luar Rajen pamit mau cari kerja. Huma abaikan.
Jelas, sedang marah. Catat!
Memangnya kalian kalau jadi Huma tidak akan marah?
Lalu terdengar suara motor berlalu. Rumah ini dindingnya tipis, suara kecil di luar pun bisa kedengaran sampai kamar, apalagi suara mesin motor.
Well ... apa itu?
Kala Huma melengos melirik sudut lain kamar, tak sengaja mata berpapasan dengan sesuatu di atas meja kecil sisi tempat tidur. Humaira meraihnya.
Benda berkilau semalam. Iya, kalung. Tapi disertai dengan dompet khas toko emas.
Apa ini?
Jantung Humaira berdetak kencang, makin naik ritmenya, terlebih saat dia buka dompet tersebut.
Ada secarik kertas putih dan ... dua lembar uang seratusan ribu. Huma membuka kertas putih itu, di dalamnya berisi tulisan "Toko Emas Delima" beserta catatan lain khas surat perhiasan yang pernah Huma miliki sebelum Rajen kena tipu.
Sekali lagi ... APA INI?!
***