Rajen tercenung menatap saldo tabungan yang mendekati nol rupiah, lalu ditatapnya sosok wanita yang kini hanya memakai perhiasan cincin nikah, bahkan saldo di ATM pun hanya tersisa tiga puluh ribu.
Satu sisi, Rajen masih memikirkan bagaimana cara agar aplikasi buatannya berkembang, alih-alih semakin mengkhawatirkan—berat mengakui untuk menyatakan dirinya gulung tikar.
Rajendra, 23 tahun. Menggigit bagian dalam bibir dengan pikiran semrawut.
Hatinya sesak.
"Sekarang kamu percaya kalau kamu kena tipu, kan, Raj?"
Uh ... berat mengakui, tetapi itulah kenyataannya saat ini. Rajen menelan bulat-bulat gegsi yang dirinya junjung tinggi.
Humaira—sang istri, 25 tahun—kembali berkata, "Udah kubilang, nggak ada orang yang ngasih keuntungan sebesar itu tanpa kerja nyata, cuma nge-like-like video aja. Itu scam. Tapi kamu kekeh nggak percaya."
Rajen membisu, tetapi tidak lama. "Tawarannya menggiurkan dan waktu itu terasa sangat menjanjikan, Ra."
"Tapi nggak masuk akal," sela Humaira. "Sekarang kenyataannya apa? Tabungan buat renovasi rumah yang kamu impikan itu, hilang."
Serasa ada bunyi jleb di dadaa Rajen kala mendengarnya.
"Bahkan perhiasan aku yang tadinya lengkap gelang, kalung, cincin sampe tiga, plus antingku semasa gadis ... habis. Sisa ini doang." Cincin nikah, Huma tunjukkan jari-jemarinya ke Rajen.
Di dalam kamar rumah gubuk. Rajen sebut gubuk karena rumahnya ini di bawah standar konglomerat.
Sebelumnya, kalian tahu siapa Rajendra?
Iya, Janardana Rajendra Atmaja, cicit konglomerat pemilik Atmaja Group—perusahaan firnitur merek Luxe—nomor satu Tahan Air. Dia bukan pribumi yang lahir dengan sokongan BPJS, tetapi kini kehidupannya sudah 180 derajat berbalik.
"Aku cuma pengin nunjukin bahwa—"
"Kita hidup enak dan sukses," pangkas sang istri. Humaira.
Rajen membenarkan.
Huma tahu seberapa besar ambisi Rajen untuk membuktikan bahwa dirinya mampu berjaya setelah diusir dengan hina oleh kakek uyutnya. Setelah posisinya sebagai calon penerus Atmaja Group digusur. Dan setelah seluruh kesempatannya ditutup untuk menunjukkan kelayakan hingga tak semestinya dia didepak dengan kejam.
Tapi ....
"Jangan terlalu dipaksakan. Karena itu malah bikin kamu tertekan dan salah ambil pilihan. Kayak sekarang, puluhan juta yang kamu hasilkan dua tahun terakhir itu hilang."
Rajen menelan ludah. Dadanya sesak.
Tak bisa mengelak lagi, Rajen sudah kena tipu habis-habisan. Uang yang dia tanam dengan dijanjikan keuntungan dua kali lipat hanya dengan nonton dan nge-like video itu ... habis tak tertolong.
Belum lagi data berupa KTP, pengisian OTP, verifikasi wajah, dan segala macamnya ternyata digunakan si penipu untuk membuka pinjaman online.
Uang tabungan yang Rajen gadaikan dengan bayangan bisa kembali dua kali lipatnya, raib tak bersisa di aplikasi gadungan si penipu. Padahal di sini, Rajen sendiri adalah sarjana lulusan Software Engineering. Selain itu, Rajen terkenal cerdas dan sangat logis.
Rasanya sulit dipercaya bahwa di usianya yang kedua puluh tiga tahun ini Rajen tertipu.
Ditambah pinjol itu, karena tabungan tak ada, otomatis segera menutupi dengan menjual perhiasan istri, pun mentransfer saldo yang tersisa di ATM—padahal ini uang biaya hidup selama sebulan ke depan nanti.
Habis.
Rajen sontak tertawa, rasanya dia sudah gila. Tapi di balik tawa itu ada tangis yang kemudian jatuhi pipi Rajen.
Melihat suaminya bereaksi demikian, Humaira datang memeluk dengan senyuman paling pasrah. Seolah ... mau bagaimana lagi?
"Maaf ...." Parau suara suami Humaira. "Maafin aku."
Karena habis-habisan kena tipu itu?
Huma menarik napas, sebetulnya kesal, ingin marah, ingin mengolok-olok bilang, "Kata aku juga apa, itu penipuan. Tapi kamu nggak dengerin apa kata aku. Sekarang lihat? Habis semua."
Namun, ucapannya tidak benar-benar Huma loloskan. Hanya bisa begini, memeluk tanpa kata, menghela napas saja. Karena daripada dirinya, Huma yakin Rajen lebih terpukul.
Yang gengsinya selangit itu, tiba-tiba tertipu puluhan juta. Malunya pasti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Yang harga dirinya setinggi Gunung Himalaya itu, tiba-tiba terkelabui penipu sampai terlilit pinjaman online hingga harus menutupi dari seluruh uang di ATM dan perhiasan istri. Pasti sekarang menciut, kan? Harga dirinya terpelanting ke dasar.
Huma telah melihat bagaimana syok dan pusingnya Rajen saat mengatasi musibah yang tiba-tiba menimpa di kala usahanya bangkrut—yang tak ingin Rajen akui.
Awalnya tergiur dengan pemasukan instan, kondisi Rajen memang sedang terdesak bin panik karena aplikasi buatannya terancam tidak berpenghasilan lagi. Bangkrut.
Sementara, goals Rajen saat ini menggunung.
Entah kenapa logika Rajen tidak jalan saat dapat tawaran yang ternyata itu penipuan, padahal Humaira sudah mewanti-wanti.
"Kata aku, sih, mending kamu cek lagi, Raj. Kok, berasa janggal, ya? Masa ada uang besar yang bisa dihasilin segampang itu? Secuma-cuma itu? Bukannya apa, takutnya nipu."
Tapi Rajen bilang apa?
"Aman, kok. Ini rezeki, Sayang."
Kekeh.
Ini rezeki.
Huma bilang, "Cek lagi. Atau coba tanya papi, cuma mastiin kebenarannya aja gitu."
"Lho, kamu nggak percaya sama nalar Rajendra, Ra? Nalar aku itu udah yang paling tajem dibanding siapa pun. Percaya sama Pamud."
Pamud adalah sebutan Bara kepada Rajen, papa muda. Biasalah, panggilan ala-ala anak ke papa yang Rajen buat saat dirinya masih remaja.
"Tapi—"
"Udah, kamu tunggu hasil aja. Tau-tau perhiasan kamu nambah sampe bingung mau pake yang mana. Terus rumah kita jadi lebih gede dari punya papi." Rajen mengatakannya dengan penuh percaya diri.
Namun, apa yang terjadi?
Alih-alih dapat untung malah buntung, saldo kembali fitri; suci, bersih, nol rupiah.
Dan Rajen terisak.
Tidak apa-apa, kan, laki-laki menangis? Atau Rajen terlalu mendramatisir? Tapi kata Huma, nangisnya Rajen lebih baik daripada saat dia melampiaskan dengan tawa. Seperti orang gila.
Rasanya sangat sesak. Perasaan malu dan harga diri terluka itulah yang paling melekat. Sesal sudah pasti. Menyesaaal sekali. Rajen berasa mau gila sekarang—atau bahkan sudah menyerupai, meski semua pinjaman online-nya sudah dia tutupi, sudah tidak ada masalah lagi.
Ah, tidak. Masalahnya belum pergi, kondisi finansial Rajen menjadi masalah besar kini sekali pun tidak ada utang yang tersisa. Tapi ... mata pencaharian Rajen gulung tikar, tabungan habis, bahkan tidak ada lagi emas istri yang bisa dijual buat biaya hidup ke depan. Jangan sampai motor harus dijual. Tidak. Itu untuk ke sana kemari agar lebih hemat.
Bara suka jajan ke minimarket, Bara suka main motoran bertiga dengan orang tuanya. Tak mungkin Rajen tega harus menjual barang kesayangan sang putra.
"Aku bodoh banget, Ra." Masih parau racauan suara Rajen.
Memang. Bodoh sekali.
Huma juga maunya maki-maki; bodoh, bebal, sok nalar. Halah! Tapi cepat-cepat dia istigfar, tarik napas.
Yang pasti, baik Rajen maupun Huma masih di titik susah ikhlas. Huma melihat sisi Rajen yang baik-baik agar kekesalan karena kebodohan sang suami itu tidak makin menjalar di hati.
Huma berusaha untuk tidak menyalahkan. "Mau gimana lagi, kan? Kayaknya tabungan sama emas aku itu bukan rezeki kita, Raj. Jadi diambil lagi, deh."
Dengan cara kena tipu?
Rajen memaki-maki dirinya sendiri. Kalian dengar itu? Katanya, Rajen tololl, bego, nggak ngotak, nggak dengerin apa kata istri, sok iya ... dan sebagainya. Huma tidak perlu memaki, Rajen sudah mewakili itu dengan sangat baik bin terperinci.
Tidak Huma hentikan juga makian Rajen, biarlah. Sampai kini Rajen kembali larut dalam tangisnya.
Di samping itu, bocah umur lima tahunan masuk ke kamar. Menatap lugu ke arah orang tuanya. Dia Bara.
"Mamut, Mamut. Pamut nangis?" Masih cadel di beberapa huruf walau sudah lima tahun, juga karena kebiasaan menyebut Mamut dan Pamut daripada pakai huruf d di ujung.
"Suruh main dulu Baranya, Ma," bisik Rajen, masih di pelukan Humaira. Tak Ranjen tampakkan wajahnya. Malu. Harga diri. Dan kalau ada Bara, nyebutnya 'ma' atau 'mamud.'
"Nggak, pamud nggak nangis. Cuma lagi pengin disayang sama Mamud. Bara main di ruang TV lagi, gih. Itu TV-nya masih nyala, kok, nggak ada yang nonton? Gih, sana!"
Tapi yang ada Bara justru makin mendekat, bergelayut di tubuh sang mama selepas dia letakkan robot-robotannya. "Bala juga mau disayang, Mamut."
Disayang di sini adalah dipeluk.
"Pamut, awas! Gantian, Bala juga mauuu!"
Huma auto ketarik-tarik dari sana-sini, Rajen yang tidak mau lepas, Bara yang ingin merebut posisi. Masalahnya, Bara kumat di kondisi Rajen yang sedang—sangat—tidak baik-baik saja.
Hari itu.
"Jangan bilang ke siapa pun aku habis kena tipu, ya, Ra," pesan Rajen sebelum mengalah untuk anaknya, bisik-bisik agar Bara tak dengar.
Rajen lantas melepas pelukan, Bara langsung manjat ke pangkuan sang mamud, lalu duduk memeluk Humaira.
Huma praktis melingkarkan lengannya di tubuh kecil Bara. Sementara, Rajen sudah menjauh.
"Mau ke mana, Pa?" seru Huma. Baginya yang berasal dari keluarga miskin, sangat miskin, kembali ke keadaan awal—saat ini—bukanlah hal yang merasa perlu menyalahkan Rajen.
Huma memiliki hati yang terlatih. Sebab lukanya pernah sedalam lautan, lalu ikhlasnya seluas langit pernah Humaira dapatkan.
"Cari angin," jawab Rajen singkat.
Tapi berbeda dengan Rajendra, kemiskinan selalu jadi mimpi buruk paling mengerikan.
Huma jelas khawatir. "Jangan jauh-jauh!"
Karena Rajen bisa dibilang sedang stres-stresnya, titik terendah.
"Pa!"
Suara motor terdengar, bahkan menjauh. Bara praktis turun dari pangkuan sang mama, berlari ke depan sambil memanggil-manggil papanya dan ... "Bala ikuuut! Pamuuut!"
Hari di mana kisah mereka dimulai seakan Rajen habis salah pencet tombol, bukannya log out karena sudah happy ending malah restart.
Hari itu ....
Rajen, dua puluh tiga tahun. Humaira, dua puluh lima. Dan Bara—putra mereka—lima tahun.
Rajen tidak mengerti konsep kehidupan yang terjadi padanya. Dimulai dari anak tangga teratas, lalu dihempas ke undakan tiga terbawah dengan begitu mudah karena musibah—disengaja oleh orang lain.
Sudah mulai naik ke anak tangga yang di tengah agak ke atas lagi, tetapi belum lama di situ malah terdorong setapak menurun. Belum cukup, dorongannya kini membuat posisi Rajen berada di undakan pertama terbawah.
Musibah.
Tapi kali ini karena salah Rajen sendiri.
Kakek Uyut Atma pasti sedang tertawa puas sekali di alam sana, ya?
Karena Rajen ... tidak. Rajen tidak gagal.
Kenapa dia gagal, padahal baru jatuh sekali? Jatuh juga, kan, bisa bangkit lagi.
Di sini, sisi jalan raya Jakarta, Rajen memarkirkan motornya. Menatap gedung pencakar langit dengan logo Luxe yang menyombong seakan mengejeknya.
Tatapan Rajen lurus ke gedung tinggi itu, yang seharusnya ... dia di sana. Seharusnya, yang pergi pelatihan penerus ke luar negeri adalah dirinya, bukan Jagat—sang kembaran.
Luxe, Atmaja Group.
Terngiang di kepala soal ucapan kakek uyut bahwa ... Rajen dan keturunannya diharamkan untuk ada di lingkup pimpinan perusahaan keluarga.
Diharamkan.
Padahal, seluruh impian dan cita-cita besar Rajen ada di gedung itu. Dedikasinya untuk bersaing agar berada di kursi utama penerus Luxe sudah menguras banyak sebagian fokus Rajen semasa remaja. Sampai-sampai di saat Jagat pacaran, Rajen tidak.
Oh, tangan Rajen mengepal.
***