Ada rasa sesak yang hinggap di hati seorang Ferdinan, melihat sosok gadis yang selama ini tercatat sebagai anak bungsunya, keluar dari sebuah ruang untuk kemudian duduk di bangku akad. Bukan sesak sebab hari bahagia Nuni dilaksana. Sesaknya karena hubungan dia dan sang anak walau bukan kandung sedang retak. Agak menyayangkan saja, kenapa harus ada pertikaian seperti itu? Padahal ternyata masalah soal Firman dan Zarin bisa dikembalikan ke keadaan semula, tetapi hubungannya dengan Nuni saat ini ... Ferdinan menghela napas pelan. Sulit. Rasanya sudah rusak. Nuni saja tak lagi menyebutnya dengan sebutan papi, melainkan bapak, seperti karyawan di kantornya. Pun, Nuni tampak jauh lebih sungkan. Wajar, sih. Hebat kalau Nuni tidak demikian. Terbayang ketika Nuni melewati hari-hari menuju hari

