Aryan mencoba membuka matanya yang masih enggan diajak bangun, ketika mendengar suara panggilan istrinya. Rasanya masih luar biasa mengantuk, tapi pekerjaannya di kantor juga tidak mungkin dia biarkan terbengkalai. “Om … bangun!” “Sebentar, Beb! Lima menit lagi,” gumamnya masih dengan mata terpejam. “Nanti jam setengah sembilan ada janji sama Pak Toni, masa tamunya yang disuruh nunggu. Bangun, Om!” ucap Mara mengingatkan ada jadwal penting pagi ini. Aryan menggeliat, masih dengan mata setengah terpejam justru pindah tidur di pangkuan istrinya yang duduk di tepi ranjang. Wangi, dia paling suka harum parfum Mara yang sudah melekat di tubuhnya. “Semalam pulang jam berapa?” tanya Mara mengelus rambut ikal suaminya yang sudah hampir terlelap lagi. “Empat,” gumamnya serak, lalu berbalik m

