Ketukan di pintu itu terdengar pelan—satu, dua kali—cukup sopan untuk sebuah ruang Chief Executive Officer (CEO). “Raden,” suara Rendra menyusup setelah pintu terbuka sedikit. Dengan kepala sedikit menyumbul di balik pintu kaca gelap itu. “Tamu sudah datang. Perwakilan dari Wicaksana, sesuai janji.” Arya yang sedang menelusuri berkas di tabletnya mengangkat wajah. Alisnya sedikit terangkat. “Cah Ayu?” tanyanya refleks, seakan nama itu masih otomatis muncul setiap kali Wicaksana disebut. Rendra menggeleng kecil, menahan senyum. “Bukan, Raden. Raden Ayu masih di Turki.” Arya terdiam sejenak. Ah—iya. Turki. Bulan madu… atau bisnis. Ia sendiri tak pernah benar-benar menanyakan detailnya. Dan tak seharusnya juga. Karena dia tau mantan istrinya itu sudah bahagia dengan kehidupannya yang bar

