“Love is a dream made flesh—an illusion that breathes. It chases joy with trembling hands, while time watches in stillness, waiting to undo everything. Is there a way?” —— Langit mulai meredup, dan warna oranye lembut menyusup perlahan ke sela jendela tinggi ruang baca lantai atas perpustakaan kampus. Tempat itu sepi, hampir selalu begitu menjelang sore. Bukan karena tak ada yang tahu keberadaannya, tapi karena kebanyakan mahasiswa lebih memilih membaca di lantai bawah atau ruang diskusi yang lebih hangat dan ramai. Nea duduk di kursi kayu panjang, membelakangi deretan rak buku psikologi sosial. Di depannya, jendela besar menghadap taman belakang kampus yang kini mulai disapu bayangan senja. Di hadapannya terbuka laptop dan buku-buku tebal yang tak benar-benar ia baca. Lembar catatan d

