16 | Malam Bersama Alana

2779 Kata

Senja turun perlahan seperti kelopak mata yang berat menahan lelah. Langit berpendar jingga lembut, menari di sela-sela dedaunan kampus yang digoyang angin sore. Di dalam ruang baca kecil yang tersembunyi di sudut gedung psikologi, dua sosok duduk berdampingan, dikelilingi tumpukan kertas, buku referensi, dan secangkir kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Daska sedang menjelaskan satu bagian penting dalam sistematika pembahasan, jarinya menelusuri grafik kecil di jurnal cetak. Suaranya rendah, tenang, tapi mantap—seperti nada biola yang ditarik perlahan di ruang hening. Sementara Nea, meski awalnya fokus, mulai terdistraksi saat ponselnya bergetar pelan di atas meja. Ting! Satu notifikasi masuk, dari email. Nea melirik, sekilas. Tapi pandangannya tertahan lebih lama dari seharusnya. D

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN