“Aku enggak pernah anggap kamu sebagai tantangan. Kamu bukan trofi buat dikejar, sayang. Kamu orang yang... ingin aku dampingi. Kalau bisa, seumur hidup.” —— Langit sore memudar ke jingga pucat, membingkai jendela apartemen Nea dengan semburat lembut. Di dalam, suasana sunyi yang menenangkan menyelimuti ruang tengah—hanya ada suara pelan playlist for revenge yang mengalun dari speaker kecil di sudut rak buku. Aroma vanila dari diffuser mencampur dengan sisa harum kopi pagi yang masih tertinggal samar di udara. Nea duduk bersila di atas karpet tebal, bersandar di tepi sofa sambil membaca buku yang separuh halaman tandanya sudah terlipat. Rambutnya dicepol asal, beberapa helaian jatuh menutupi pipi. Kaos longgar warna kelabu dan celana rumah yang kebesaran memperlihatkan betapa ia sedang

