Sejak malam yang menjadi titik luruhnya perasaan Daska, pada kalimat yang masih diingatnya dengan sangat baik bahwa dirinya bukan lagi alasan Nea bahagia, sejak itu pula Daska selalu berusaha mengalihkan tatap dari Nea sekecil apapun peluangnya. Apapun yang berhubungan dengan pekerjaan Nea—yang berkaitan langsung dengan dirinya— akan segera Daska alihkan pada sekretarisnya. Ia benar-benar membatasi diri, pun membangun tembok yang tinggi agar semuanya tetap terjaga. Agar hatinya tidak semakin babak belur dan mulai menerima. Agar ... perasaan yang porak poranda dan retak di mana-mana itu, tidak mudah hancur meski oleh sentuhan paling kecil sekalipun. Daska duduk di balik meja kerjanya. Matanya lurus menatap layar laptop yang menyala namun pikirannya jauh mengembara. Pada Nea, pada wanita

