Senja turun perlahan di langit Selatan. Jingganya menyapu langit seolah menuangkan madu ke dalam segelas teh panas. Hangat, manis, dan menenangkan. Udara sore itu mengandung aroma rumput basah dan bara arang yang belum dinyalakan, pertanda bahwa malam nanti akan ada kebersamaan yang dijanjikan. Di ruang tengah, televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan parade channel yang terus berpindah tanpa keputusan pasti. Nea bersandar malas di sofa, satu tangan memegang remote dengan mata hanya melirik sekilas setiap tayangan yang muncul. Fokusnya buyar sejak tadi. Entah oleh pikiran yang mengambang, atau oleh rasa yang terlalu asing untuk disebutkan. “Pulang kantor udah kayak abis perang lawan penjajah aja, Bang. Lesu bener mukanya,” goda Nea, tanpa menoleh. Tawa pelan terdengar dari ara

