“Barangkali, masalah itu bukan tak bisa selesai, hanya terlalu sering kita diamkan tanpa mau memberi kesempatan.” —— Hari ini adalah hari ketiga sejak Nea memutuskan untuk menepi sejenak dan kembali ke rumah. Tidak, tentu saja Nea tidak sedang mencoba melarikan diri. Tidak ada yang musti dia hadapi jadi, rehat sejenak adalah bagian dari caranya memulihkan lukanya. Nea duduk di ruang TV rumahnya, namun layar yang berpendar di depannya tidak mampu mengalihkan pikirannya. Matanya kosong, seolah tertahan di ruang dan waktu lain, di mana bayang-bayang Daska terus bergelayut, merangkai cerita-cerita yang dulu pernah mereka ukir bersama. Menyebalkan, bukan? Dan yang paling menusuk di hati adalah kenangan tentang rumah lukis itu. Bagaimana Daska membuka masalalunya, memperkenalkannya, lalu

