“We didn’t mean to touch sin, but it touched us first.”
——
Perpustakaan hari ini terasa tidak seramai seperti biasanya. Mungkin karena hari ini Sabtu. Rak-rak tinggi dipenuhi buku tua dan baru, aroma kertas yang familiar memenuhi hidung, memberikan rasa nyaman yang aneh. Nea duduk di salah satu sudut ruangan, laptopnya terbuka, dengan jari-jari mengetuk pelan keyboard. Di sampingnya, secarik kertas penuh coretan revisi bab 1.
Jua—sahabat yang selalu membersamainya kemanapun dan kapanpun, sudah lebih dulu pulang sekitar satu jam yang lalu karena ada janji temu dengan Rega sang kekasih. Menyisakan Nea sendiri, meski tak benar-benar sendirian. Beberapa Mahasiswa lain terlihat sibuk dengan laptopnya, beberapa lagi berlalu lalang pada rak-rak buku. Aktivitas di akhir pekan yang sudah pasti hanya akan diisi oleh mahasiswa tingkat akhir.
Matanya terasa berat setelah dua jam lebih berusaha merevisi draft skripsinya. Ia menyender sebentar, lalu menghela napas panjang. “Kenapa teori bisa bikin segila ini sih?!” gumamnya pelan. “Ini skripsian atau tutorial bikin mati perlahan?” keluhnya kemudian.
Apalagi saat melihat file revisian yang penuh dengan catatan dan coretan dari Pak Daska tadi malam, membuat Nea merasa semakin ciut saja.
“Oke ... Be calm, Nea ... ini pasti berlalu. Pasti. Lo cuman butuh sedikit effort buat menyelesaikan ini semua,” gumamnya pelan. Berusaha memotivasi dirinya sendiri.
Dengan tekat kecil yang mendadak muncul itu Nea bangkit dan berjalan ke deretan rak bertuliskan Psikologi Sosial. Matanya mulai menyusuri barisan judul-judul, mencari buku yang bisa mendukung landasan teoritisnya tentang kecemasan sosial dan pengaruh media sosial. Hingga— “Buku yang kamu cari?”
Nea tertegun. Suara itu terlalu familiar. Terlalu dalam. Terlalu berbahaya. Ia menoleh dan mendapati sosok Edgara Daskarendra berdiri hanya beberapa langkah darinya, menyodorkan sebuah buku tebal berjudul The Social Media Trap: Anxiety, Connection, and Disconnection.
Sejenak, Nea tak mampu berkata apa-apa. Matanya menatap pria itu, lalu bukunya, lalu kembali ke matanya lagi. Ada jeda yang terlalu lama untuk dianggap wajar. Tapi Daska hanya tersenyum samar, nyaris tak terlihat, lalu berkata, “Kamu membutuhkannya, bukan?” sambil kembali menyodorkan buku itu kepada Serenea.
Nea menerima buku itu tanpa suara, tanpa berkata apa-apa bahkan sesingkat terimakasih pun tidak. Ia terlalu bingung dan canggung memahami situasi saat ini. Kembali bertemu dengan Daska bukanlah hal yang Nea harapkan dalam hidupnya. Mengingatnya pun tidak. Apalagi harus terlibat lebih jauh membuat Nea kebingungan dalam hal bersikap. Semuanya terasa acak dan berserakan saat ini di kepala Serenea.
Daska sadar jika ini tidak akan pernah mudah untuk Nea sehingga tanpa menunggu tanggapan gadis di hadapannya, pria itu berbalik. Langkahnya pelan berjalan meninggalkan Nea dan keluar dari ruang perpustakaan. Sikapnya tenang, seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka berdua. Berbanding terbalik dengan Nea yang selalu tidak pernah siap menghadapi kehadiran Daska.
Setelah kepergian Daska, Nea menatap buku yang kini berada di tangannya sesaat, menghela napasnya dalam sebelum akhirnya melangkah kembali ke mejanya.
Saat membuka halaman pertama buku itu, selembar kertas tipis mencuri perhatian Nea. Kertas itu berisi sebuah tulisan singkat.
If you remember how you trembled that morning, tell me — was it fear, or something else?
Nea mematung. Dadanya sesak, bukan karena takut… tapi karena pertanyaan itu menggali sesuatu yang susah payah ia hapus dari ingatannya selama ini. Yang selalu membayanginya setiap waktu dan mati-matian Nea enyahkan.
Ia menatap tulisan itu lama lalu menyelipkannya ke dalam buku lain yang merupakan miliknya. Tanpa banyak pikir, Nea langsung membereskan barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tas ranselnya lalu bergegas pergi ke tempat di mana ia bisa menemukan sang pemilik catatan tersebut.
Ruang Dosen: Psikologi
Sebuah ketukan pelan di pintu kayu, membuat si pemilik ruangan itu menyahut. “Masuk,” suara itu terdengar dari dalam.
Nea mendorong pintu. Ruangan itu sunyi, namun vibes itu terasa berbahaya baginya, entah kenapa. Nea bisa melihat dengan jelas sosok Daska yang duduk di kursinya baru saja menutup layar laptop ketika menyadari kehadirannya.
“Nea.” Hanya satu kata, tapi nada suaranya mampu membuat Nea terasa semakin kecil. Apa yang pria itu inginkan sebenarnya?
Nea membuka buku yang tadi ia selipkan kertas catatan yang ia sadari betul siapa pemiliknya. Mengambilnya, lalu meletakkannya di atas meja. Tepat di hadapan Daska.
“Bisa Bapak jelaskan maksudnya?” Suara Nea sedikit bergetar, tapi matanya tajam, penuh dorongan untuk memahami maksud pria itu.
Tenggorokannya terasa terkecat, namun ia berusaha untuk kembali bersuara. “Kita sudah pernah membahas ini pagi itu dan—”
“Nea, Apa kamu baik-baik aja setelah malam itu?”
Nea menatapnya tak percaya. “Apa maksud Pak Daska? Kita—”
“Saya tahu pertemuan kita kembali setelah malam itu pasti cukup membuat kamu kaget dan kesusahan, Nea. Tapi ... saya juga berhak untuk memastikan bagaimana keadaan kamu setelah kejadian itu.”
“Saya nggak nyalahin Pak Daska,” balas Nea cepat, agak terburu-buru. “Kita sama-sama tahu keadaannya seperti apa dan Pak Daska juga pasti mengerti bagaimana kondisi saya—” pipi Nea terasa panas karena malu. “Oh my god! Apa etis membahas hal ini di sini? sekarang?”
“Kamu yang datang kesini menemui saya kalau kamu lupa, Nea.” Dengan entengnya Daska menjawab.
Nea mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum akhirnya kembali menatap Daska. “Bapak yang menemui saya di perpustakaan dan menyelipkan kertas catatan itu di buku yang Bapak kasih ke saya, kalau Bapak lupa!”
“Saya hanya ingin memastikan. Kamu bisa mengirim saya pesan atau telpon, Nea. Tapi kamu memilih untuk menemui saya langsung di sini. Dan tentunya, membahas ini.” Daska mengambil kertas catatan itu dan menaikkannya ke udara, tepat di hadapan Nea.
Skak mat! Ucapan Daska berhasil membungkam Nea. Benar, ia sadar satu hal bahwa ia mempunyai opsi lain tapi entah bagaimana dirinya malah mengambil opsi yang paling mudah namun ternyata malah menjebaknya seperti saat ini.
Nea menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. “Saya baik-baik saja. Itu kan yang mau Bapak dengar? Saya sudah menjawabnya jadi, tolong kasih saya penjelasan.”
Daska tersenyum tipis. “Saya tahu itu pasti nggak mudah buat kamu karena, jujur itu juga mengganggu saya selama ini,” katanya. Bagai sebuah pengakuan yang terlalu gengsi untuk diakui?
“Maksud Bapak?”
“Keadaan kamu saat kita terakhir bertemu. Pagi itu. Kamu ... tidak baik-baik saja?” Ia menatap Nea intens. Lalu kembali melanjutkan. “Apalagi saya tahu itu yang pertama untuk kamu. Benar, kan?”
Nea kembali diam. Kali ini rasa malunya bertambah berkali-kali lipat. Bercampur dengan rasa kesal karena bisa-bisanya pria di hadapannya sekarang mengatakan hal tersebut? Wajahnya terasa panas—merah padam sampai ke telinga. Sumpah, seandainya ada cermin, ia yakin dirinya sudah mirip kepiting yang direbus dua hari dua malam! Dan jika bisa memilih, Nea ingin sekali menghilang dari ruangan ini sekarang juga!
Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia bisa bersuara, meski suaranya pelan. “Harus banget ya Pak, bagian itu diomongin ke saya langsung begini?”
“Sudah saya—”
“Ok fine. Bapak pengen memastikan saya baik-baik aja setelah itu dan ya saya udah menjawabnya. Saya ulangi, I'm good.”
“Pak Daska benar ini emang sulit buat saya awalnya karena ya seperti yang bapak bilang it's first time for me dan insiden itu cukup mempengaruhi saya dalam beberapa waktu.” bahkan sampai hari ini karena ...
“Tapi honestly, saya nggak pernah membayangkan bakal ketemu lagi sama Bapak. Jadi, ketika pada akhirnya saya dipertemukan lagi sama Bapak, of course I felt troubled—again, shocked, and definitely didn't know how to react.”
Nea menjeda ucapannya untuk mengambil napas. Lalu, ia melanjutkan. “Saya hanya ... ini ... terlalu diluar ekpektasi kehidupan saya.” ia menggigit bibir bawahnya. “Berkaitan dengan Pak Daska, apapun itu bagi saya tidak akan pernah mudah, Pak. Karena memori saya akan selalu mengingat bagaimana saya malam itu. Ya, you know how embarrassing it ... ” ia mengalihkan pandangannya pada lantai.
“Saya mengerti, Nea. Kamu tidak perlu merasa malu mulai sekarang karena saya tidak pernah menganggap kamu sebagai definisi perempuan yang ada di kepala kamu—yang selalu kamu risaukan itu. Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?”
Nea fefleks kembali menarik pandangannya pada Daska. Entah kenapa, mendengar itu perasaannya sedikit lebih lega dan pikiran riuhnya, terasa berkurang dan seolah menguap begitu saja. Nea tidak takut dipandang rendah, jika saja mereka tidak lagi bertemu. Jika saja pria itu bukan Pak Daska—dosen pembimbingnya. Jika saja pria itu seperti yang dikatakan oleh Jua, hanya pria random yang bertemu pada satu malam lalu kembali menjadi asing.
Lalu, dengan cepat Nea menggeleng. “Nggak.”
“Do you feel better?”
Lama ia terdiam sebelum akhirnya menjawab, “Ya.”
Meski belum sepenuhnya membaik karena biar bagaimana pun Nea tidak akan mudah melupakannya begitu saja dan menganggapnya biasa saja mengingat sekarang Daska muncul di kehidupnya bahkan bukan hanya ada tapi mendadak menjadi bagian kecil yang penting di hidup Nea saat ini untuk kelulusannya.
Nea menghela napasnya dalam. “Kalau begitu saya permisi, Pak,” pamit Nea. Ia bahkan tidak menunggu respon Daska terlebih dahulu. Memilih untuk segera berlalu dari ruangan tersebut.
Namun, tiba-tiba saja ia teringat akan satu hal yang lumayan mengganggu pikirannya selama ini. Meski sebenarnya Nea sudah bisa menebaknya tetap saja pikiran sialannya mendorongnya kuat untuk memastikan sesuatu—semata-mata demi dirinya dan pikirannya sendiri. Sehingga, Nea mengurungkan niat untuk meraih handle pintu dan kembali berbalik.
“Saya… ada satu hal yang masih membuat saya penasaran,” suaranya terdengar agak terburu-buru, berusaha menyembunyikan kegelisahan dalam dirinya.
Daska mengerutkan keningnya, masih dengan tatapan dan sikap tenang seperti biasa. “Apa yang ingin kamu tanyakan, Nea?”
Nea menelan ludah, meraba pikiran dan juga hatinya bahwa apa yang akan ia tanyakan adalah keputusan yang benar.
“Malam itu... pengaman...” Dia melanjutkan, meski suaranya mulai terdengar lebih pelan. “Bapak ... pakai kan?"
Sekejap, ruangan itu terasa lebih sunyi, dan Daska menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya menyipit.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Daska berkata pelan, nada suaranya sedikit mengandung tanya, seperti sedang bermain-main dengan perasaan dan pikiran Nea.
“Saya... cuma pengen pastiin aja, Pak.”
“Menurut kamu kalau saya tidak pakai pengaman, kamu akan bagaimana?”
“Saya ... mungkin, nggak ada di sini,” jawab Nea hati-hati. Suaranya mengecil. Mulai menyesali pertanyaan konyolnya barusan.
“Dan kenyataanya?”
“Saya ... ada di sini.”
“Jadi, jawabannya?”
Nea mengangguk pelan. “Pak Daska ... pakai pengaman.”
Daska melepaskan senyum tipis. Senyum yang bakan tidak disadari kehadirannya oleh Nea, namun sarat akan makna tersembunyi di baliknya.
“Itu kamu tahu jawabannya, Nea,” katanya dengan suara datar, membuat Nea merasa semakin canggung dan juga malu.
Nea menunduk, wajahnya merona malu. Sangat malu. Jika saja lantai di bawahnya saat ini adalah pintu lift yang bertombol, Nea pasti sudah memencet tombol itu dan membiarkannya menghilang secepat mungkin dari hadapan Daska.
“Aduh… lagian kenapa juga sih gue nanya itu?!!!” gerutunya dalam hati. “Gimana gue menghadapi Pak Daska setelah ini, Tuhaaaan ...”
Daska mengamati Nea dengan tatapan yang tidak berubah. “Jangan khawatir, Nea. Terkadang kita memang butuh memastikan hal-hal yang kita sudah tahu,” ujarnya seolah mengerti perasaan Serenea saat ini.
Nea yang terlanjur nyemplung dan basah hanya bisa mengangguk pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Daska kembali bersuara. “Nea,” panggilnya.“Kamu tahu? terkadang, hal-hal yang nggak direncanakan justru yang paling menyimpan segala kemungkinan.”
Nea mengangkat kepalanya untuk kembali beradu tatap dengan pria di hadapannya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Daska. Apa maksudnya?
“Kamu mahasiswa bimbingan saya dan saya dosen pembimbing kamu. Sudah pasti kita akan banyak bertemu dan berinteraksi, Nea. Itulah kenapa saya memastikan keadaan kamu. Saya harus pastikan bahwa keadaan kamu cukup untuk bisa menghadapi skripsi ini—tidak, saya terutama. Karena, kita tidak pernah tahu ini akan membawa kita ke mana dan sampai mana,” katanya. Terdengar biasa namun tidak bagi Serenea.
“Jika kamu butuh waktu, take your time. Saya akan memberikan sebanyak yang kamu mau,” katanya lagi. Cukup membuat Nea ter—distract dari ucapan Daska sebelumnya.
Pasalnya tawaran itu cukup menggoda karena itu artinya dia punya lebih banyak waktu untuk sendiri dan mungkin mempersiapkan diri? Namun sepersekian detik ia sadar bahwa tidak ada gunanya juga jika ia menepi lari saat ini. Sebanyak apapun waktunya, ia tetap akan berhadapan dengan Daska dan juga itu akan menghambat kelulusannya. Jadi,
“No. I’m fine. Saya pastikan saya profesional, Pak.”
“Good choice.” Daska melirik jam yang berada di pergelangan tangannya yang kini menunjukkan pukul 16.05 sore. Keadaan kampus pasti sudak mulai sepi apalagi ini hari Sabtu. Tidak banyak kegiatan yang terjadi.
“Mau saya antar?” pertanyaan itu tiba-tiba saja terdengar nyaring di telinga Nea.
“Hah? Oh, Tidak usah, Pak. Terimakasih. Saya ... bisa pulang sendiri.” Jantungnya mendadak berdetak tidak karuan. “Kalau begitu saya permisi, Pak.”
Kali ini Nea benar-benar berbalik, memegang handle pintu secepat mungkin dan menarik pintu itu hingga terbuka. Ia kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut.
***
Nea melangkah cepat keluar dari ruang dosen, napasnya masih terasa tidak beraturan. Jantungnya berdebar dan sialnya, dia belum benar-benar bisa menenangkan dirinya. Perkataan Daska tadi benar-benar memenuhi kepalanya saat ini. Saling menari-nari seolah tanpa henti.
Ada rasa takut, bingung—tentu saja, juga ketidakmengertian yang bersatu padu namun yang jelas Nea tidak bisa mundur lagi sekarang.
Saat lift yang mengantarkannya turun terbuka di lobi, Nea langsung melangkah keluar dengan tergesa, namun tiba-tiba,
Bruk!
“Awwwh—” Nea tersentak. Tubuhnya menabrak seseorang yang tinggi dengan parfum mahal yang sangat familiar.
“Nea?”
Suara itu membuat tubuhnya kaku seketika. Tidak salah lagi. Sial. Benar saja dia Kavin.
Pria itu berdiri di hadapannya, mengenakan jaket cokelat dan kemeja semi-formal yang entah kenapa masih terlihat rapi meski tampaknya seharian di kampus. Tatapan matanya penuh keakraban yang menyebalkan.
“Lo nggak papa?” Abis dari mana?” tanyanya sok akrab, padahal Nea sudah melangkah mundur, menjaga jarak.
“Emm, bimbingan,” jawab Nea singkat, malas menatap wajah itu lebih lama dari yang perlu.
Kavin tertawa kecil. “Sama, dong. Gue juga baru selesai. Ya ampun, kita bimbingan di hari yang sama, jodoh nggak sih?”
Mendengarnya, Nea ingin muntah.
“Mau langsung pulang? Bareng gue, yuk?”
“Enggak, Kav. Gue bisa sendiri,” tegas Nea.
“Lo masih marah sama gue karna kejadian di pesta Faya waktu itu? Sumpah? Nea please gue udah minta maaf. Gue ngaku salah okay dan—”
“Gue nggak marah sama lo tapi gue benci! Ngerti?” Nea mulai melangkah menjauh.
Namun Kavin malah mengikuti, lalu dengan seenaknya menarik tangan Nea. “Oke lo benci sama gue tapi Nea di luar hujan. Gue cuman pengen nganter lo pulang dan mungkin kita bisa bicarain ini sepanjang jalan pulang. Gue pengen kita baik-baik aja kayak dulu lagi,” ujarnya masih berusaha.
“Kav, lepasin. Gue nggak mau ngomong sama lo lagi apalagi bahas yang dulu-dulu!” Suara Nea meninggi. Sorot matanya mulai menunjukkan ketegasan yang jarang keluar. Tangannya berusaha keras melepaskan genggaman itu, namun Kavin malah semakin kuat menahan.
“Nea, gue mohon. Gue gak akan lepasin lo sampe—”
“Ada masalah?”
Suara bariton dingin menyela, membuat Kavin spontan melepaskan genggaman tangannya. Nea berbalik, dan seketika merasa seluruh dunia berhenti berputar.
Pak Daska berdiri tak jauh di belakang mereka dengan kemeja berwarna hitam dan jas yang kini berada di tangan kirinya. Matanya menatap keduanya namun juga diam-diam tertuju pada tangan Nea yang masih berada pqda ganggaman Kavin.
Nea nyaris mengucap sesuatu, tapi pria itu—dengan langkah yang tenang dan dominan, melangkah mendekat, memecah jarak dalam sekejap.
“Lepaskan tangan kamu, Kavin. Mahasiswa bimbingan saya terlihat tidak nyaman dengan cara kamu memperlakukannya,” ujar Daska sambil menatap Kavin lekat.
Menyadari ada aura menakutkan yang begitu kuat, Kavin mau tidak mau melepaskan genggamannya pada lengan Nea.
“Nea, saya baru saja meninjau ulang draft skripsi kamu dan ada beberapa point yang harus kamu perbaiki dengan segera. Ayo ikut saya.” Jelas itu bukanlah sebuah ajakan, melainkan perintah.
Nea masih terpaku di hadapannya. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan berhadapan dengan dua orang yang bahkan jika Nea bisa memilih, Nea tidak ingin bertemu dengan keduanya dalam kondisi apapun.
“Pak, tapi—” Kavin bersuara, berusaha untuk mengatakan tentang urusannya yang sangat penting bersama Nea. Namun Daska hanya menoleh sedikit tanpa benar-benar memedulikannya.
“Kavin, urusan kamu pribadi. Sedangkan saya, menyangkut akademik Nea dan kelulusannya. Saya tidak suka jika hal yang lebih penting, diganggu oleh sesuatu yang bersifat personal apalagi sama sekali bukan sesuatu yang urgent.”
Daska mengatakannya dengan nada yang datar bahkan wajahnya tanpa ekspresi sama sekali, namun cukup untuk membuat Kavin menghentikan usahanya. Ia sadar jika terus mempertahankan egonya, sama saja dengan cari perkara dosen. Dan Kavin, tidak ingin hal itu terjadi setidaknya untuk sekarang.
Akhirnya, Kavin membiarkan Daska membawa Nea keluar dari lobi dan berjalan ke parkiran mobil khusus dosen yang tak jauh dari tempatnya saat ini berdiri.
“Pak...” Nea akhirnya bersuara pelan, ketika keduanya sampai di salah satu mobil berwarna hitam milik Daska. Hujan yang tadi sempat turun kini mulai reda dan menyisakan gerimis kecil.
“Masuk. Atau kamu ingin pulang bersama Kavin dan membiarkan lelaki itu mengulang kejadian yang sempat gagal—”
“No. Okay. Nggak perlu di bahas. Saya masuk,” jawab Nea cepat kemudian masuk ke dalam mobil yang disusul oleh Daska. Ia mulai menyalakan mesin mobil dan tak butuh waktu lama, mobil hitam itu pun meninggalkan pelataran kampus bersama Kavin yang masih beridiri di tempatnya.
***