“He is a puzzle in human form—dan semakin kamu mencoba memahami, semakin dalam kamu terjerat. Some relationships are formless. But there are feelings that are real, even if they have no name.”
——
Langkah kaki Nea dan Jua menelusuri koridor kampus yang agak lengang siang itu. Beberapa mahasiswa tampak berseliweran keluar-masuk ruangan dosen, membawa map skripsi atau setumpuk kertas hasil revisian. Sinar matahari yang menyusup dari sela kaca jendela memantulkan bayangan mereka di lantai granit yang licin.
Beberapa saat yang lalu keduanya baru saja selesai dari ruangan pembimbing kedua dan sempat duduk sebentar di kantin. Sekarang, mereka akan menuju ke medan yang lebih menegangkan. Kemana lagi kalau bukan ruang bimbingan Edgara Daskarendra.
“Eh tapi sumpah ya, lo belum cerita detailnya kejadian hari Sabtu itu!” Jua langsung membuka topik begitu mereka berjalan beriringan, menyeberangi koridor depan fakultas.
Nea menghela napas. “Enggak ada yang terjadi, Jua. Ya gitu aja yang gue ceritain di telepon kemaren malem.”
“Beneran?” Jua berusaha menelisik. Mencari kebohongan di wajah sahabatnya.
“Iya, Juaaaaa....”
“Tapi, beneran lo udah ngerasa jauh lebih baik setelah obrolan lo sama Pak Daska hari sabtu kemarin?”
Nea mengangguk jujur. “At least, gue bisa mulai untuk berusaha nggak canggung lagi tiap kali berhadapan sama dia, kan? Kita emang enggak benar-benar membicarakannya tapi dari cara dia ngomong gue bisa tenang karena dia profesional,” paparnya.
Jua ikut mengangguk. “Harus sih kalau itu. Apalagi dia dosen, kan.”
Nea kembali menarik napas pelan, lalu akhirnya berkata, “Tapi ya, gue tuh kepikiran satu kalimat yang dia bilang waktu itu.”
“Hah? Kalimat apaan?” Jua terlihat penasaran sehingga dia menghentikan langkahnya. Membuat Nea ikut berhenti.
“Dia bilang ‘Saya harus pastikan bahwa keadaan kamu cukup untuk bisa menghadapi skripsi ini—tidak, saya terutama. Karena, kita tidak pernah tahu ini akan membawa kita ke mana dan sampai mana’, gitu. Aneh gak sih, Jua, menurut lo?
Jua mengernyit bingung. “Aneh, sih. Kalau soal bimbingan ya, masa bahasanya begitu? Kayak gak profesional gak, sih? Lebih ke dia lagi ngomongin hal lain, ya?”
Keduanya terdiam sejenak. Namun benar-benar sejenak sebelum akhirnya Jua berbicara dengan ekspresi hebohnya. “Atau jangan-jangan Pak Daska beneran suka lagi sama lo, Ne, makanya dia bilang gitu. Seolah kayak ngasih sinyal-sinyal tipis gitu. Oh my god!” Jua menutup mulutnya. Masih dengan euforia atas anggapannya yang dia buat sendiri.
“Ck! Juaaaa! Lo tuh ya pemikirannya ke sana mulu deh, heran gue!”
“Ya terus apa? Ada jawaban lain yang lebih masuk akal dari itu emangnya?”
“Yaaa gak tahu juga, Jua. Kan gue juga lagi bingung. Gimana sih lo ah!”
“Nea. Come on. Lo bisa sampe kepikiran kayak gini tuh ya, pasti lo juga ngerasa kan kalau ... mungkin—mungkin ya—kalimat pak Daska itu punya maksud lain? Iya, kan?”
“Ya iya, tapi maksud lainnya tuh bukan berarti apa yang lo pikirin, Jua. Bisa aja maksud lain, yang beneran lain, kan? Apa kek gitu. Ah udah ah ayo lanjut nanti kita telat lagi!” Nea kembali berjalan lebih dulu, disusuk oleh Jua yang kini membersamai langkahnya.
“Ok, skip. Tapi Ne, soal Kavin, lo bener-bener udah nggak mau berurusan sama dia, ya? Gue nggak bermaksud gimana-gimana, lo tahu, kan?”
“Ya lo bayangin aja dia sepicik itu mau jebak gue dan menurut lo gue harus bersikap baik-baik aja sama dia? Ya enggak lah. Terlepas dia sebaik itu sama gue selama ini, gue tetep aja nggak bisa, Jua.”
“Gue ngerti, sih. Kalau gue di posisi lo, gue juga pasti akan melakukan hal yang sama. Gue cuman ... you know ... khawatir dia bakal terus berusaha untuk bikin hubungan kalian baik-baik lagi dan lebih dari itu gue takut dia ngelakuin hal-hal picik lainnya hanya karena lo nggak mau maapin dia.”
Nea menaikkan kedua bahunya singkat. “Gue nggak tahu sih kalau dia bakal lebih nekat. Semoga aja enggak, ya.”
Jua mengangguk. Mereka berhenti tepat di depan pintu ruangan dosen pembimbing utama. Nea menatap papan nama kecil bertuliskan Edgara Daskarendra, M.Psi. Dan jantungnya kembali tidak karuan. Nea memeras tali tas slempangnya kuat, berharap kegugupannya bisa sedikit berkurang.
Jua memutar kenop pelan, bersiap untuk mengetuk lebih dulu, tapi sebelum jemarinya sempat menyentuh permukaan pintu,
Klek.
Pintu justru terbuka lebih dulu dari dalam. Sosok perempuan keluar lebih dulu—dan langsung mencuri perhatian keduanya.
Perempuan itu tinggi semampai, rambut hitamnya tergerai rapi, berkilau seperti habis perawatan di salon exclusive. Riasan wajahnya lembut, tapi cukup membuatnya tampak dewasa dan… menawan. Blazer putih yang ia kenakan membingkai tubuh langsingnya dengan sempurna. Bahkan tas dan high heels-nya pun terlihat mahal dari brand ternama dunia.
Nea dan Jua yang berdiri di ambang pintu, refleks mundur setengah langkah.
Dan di belakang perempuan itu—berdiri Pak Daska, tentu saja. Dengan kemeja biru navy yang lengannya digulung sampai siku, dan ekspresi datarnya yang seperti biasa, pria itu berdiri dengan kedua tangan diselipkan ke saku celana. Tatapan matanya otomatis bertemu dengan milik Nea. Dalam sepersekian detik, atmosfer di antara mereka terasa… berat. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
“Oh, mau bimbingan sama Pak Daska, ya?” ucap perempuan itu ramah, senyumnya menawan. “Aku gangguin waktunya barusan, nih. Maaf ya.”
Nea dan Jua mengangguk kaku sambil tersenyum sopan.
Perempuan itu lalu menoleh ke arah Daska. “See you tonight,” katanya pelan, tapi cukup terdengar jelas. Nada suaranya hangat. Matanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa ditebak.
“Ya,” balas Daska singkat, anggukannya kecil, profesional… tapi entah kenapa tetap terasa janggal di telinga Nea.
Perempuan itu berlalu, melintasi koridor dengan langkah anggun. Wangi parfumnya samar tercium, manis dan elegan, menyisakan kesan yang menggantung.
Nea hanya bisa menatap punggungnya. Diam. Tidak berkata apa-apa. Tapi pikirannya mulai sibuk berisik sendiri.
Siapa dia? Kolega? Teman? Pacar? Tunangan atau bahkan ... istri Pak Daska?
Matanya masih menatap arah perempuan itu pergi, sampai akhirnya,
“Ehem.” Deheman khas itu membuat keduanya spontan menoleh.
Pak Daska berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan ekspresi datar andalannya. “Silakan masuk. Kita mulai bimbingannya.”
Nea kembali sadar pada kenyataan. Dia menegakkan badan, lalu masuk ke ruangan lebih dulu, diikuti Jua yang masih mencuri pandang ke arah luar.
Namun, bahkan saat mereka duduk dan membuka map masing-masing, pikiran Nea tidak benar-benar fokus.
Karena kata “See you tonight” itu… entah kenapa terasa terlalu akrab. Bagaimana jika prasangkanya benar? Bagaimana jika ternyata Pria yang bersamanya malam itu, yang kini duduk di hadapannya sebagai dosen pembimbing, adalah pria yang sudah memiliki istri?
“Benar. Usia 31 tahun, mana mungkin belum menikah, bukan?” tuding Nea dalam hatinya, sangat yakin.
***
Jua merapikan mapnya setelah sesi bimbingan selesai. Dengan wajah sumringah khas dirinya, ia menoleh ke arah Nea. “Aku duluan ya, Nea. Good luck!” bisiknya sambil mengedip, lalu berpaling ke Daska. “Makasih banyak, Pak!”
“Ya, silakan,” jawab Daska singkat, mengangguk sopan.
Begitu pintu tertutup, suasana di dalam ruangan langsung berubah. Hening. Hanya ada suara detik jam dan gemeretak samar dari AC yang menggantung di langit-langit. Nea diam di tempatnya, memutar-mutar pulpen di tangannya sambil menahan gugup. Ia tahu harus mulai berbicara, tapi entah kenapa, lidahnya terasa kelu.
“Saya udah coba perbaiki bagian pembahasan sesuai masukan kemarin, Pak…” ucapnya akhirnya, berusaha terdengar profesional.
Daska hanya mengangguk, mengambil kertas yang disodorkan, lalu mulai membaca ulang draft bab satu milik Nea dengan cermat. Setelah beberapa saat, dia meletakkan kertas itu di atas meja dan menatap Nea dengan ekspresi yang cukup serius.
“Bab satu kamu sudah sangat bagus,” katanya dengan suara yang tenang. “Pendahuluan kamu jelas, dan latar belakang masalah yang kamu angkat relevan dengan isu yang sedang berkembang. Kamu sudah menyoroti bagaimana kecemasan sosial itu terhubung dengan penggunaan media sosial dengan cara yang tepat.”
Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menunjuk ke bagian tertentu dari tulisan Nea. “Di sini, tentang dampak kecemasan sosial pada mahasiswa, kamu sudah menyentuh poin yang penting. Mungkin, bisa lebih diperdalam sedikit tentang bagaimana kecemasan ini memengaruhi aktivitas sosial dan akademik mereka, bukan hanya perasaan pribadi. Itu akan memberikan dimensi tambahan pada masalah yang kamu angkat.”
Pak Daska kembali membaca beberapa kalimat, lalu melanjutkan, “Tapi ada satu hal kecil di bagian referensi yang harus kamu pastikan, yakni konsistensi formatnya. Pastikan format sitasi kamu sesuai dengan gaya APA, karena itu penting untuk tampilan akademik yang lebih rapi.”
Dia meletakkan pena dan menyilangkan tangannya di depan d**a. ”Secara keseluruhan, ini draft yang sangat bagus, Nea. Saya rasa bab satu ini sudah siap untuk disetujui. Begitu kamu melakukan sedikit perbaikan pada format sitasi itu, saya akan segera acc dan kamu bisa langsung lanjut ke bab dua.”
Nea merasa sedikit lega mendengar itu. “Terima kasih, Pak Daska,” jawabnya sambil mengangguk. “Saya akan segera perbaiki.”
“Bagus,” jawab Pak Daska dengan nada yang lebih ringan. “Kirimkan lagi kalau sudah selesai. Saya akan lihat dan kita bisa lanjutkan pembahasan bab dua.”
“So far, any question?”
Nea menggeleng. “Cukup, Pak.”
“Kalau begitu saya yang bertanya,” ujar Daska tiba-tiba.
“Saya perhatikan sejak tadi, kamu terlihat kurang fokus.”
Nea memperbaiki posisi duduknya. “Maaf, Pak. Mungkin karena habis bimbingan sama pembimbing dua juga, jadi agak sedikit lelah.”
Tapi Daska tidak langsung menanggapi. Ia meletakkan kertas itu ke meja, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi. Matanya tertuju penuh ke Nea.
“Kamu yakin?”
Nea menggangguk cepat. “Yakin, Pak.”
“Baiklah kalau begitu. Saya rasa hari ini cukup. Kita lanjutkan minggu depan.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak.” Ia segera berdiri, membereskan map dan buku catatannya. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara itu terdengar lagi.
“Nea.”
Langkahnya terhenti. Ia menoleh pelan, hanya untuk menemukan sorot mata yang tak lagi sekadar dosen ke mahasiswa.
“Jangan biarkan siapa pun menyentuh kamu tanpa izin.”
“Maksud Bapak?”
“Laki-laki yang bersama kamu kemarin. Kavin.”
Sesaat, Nea mencoba meresapi perkataan Pak Daska lalu kembali mengangguk lagi, entah untuk yang keberapa kali. Banyak pertanyaan di kepalanya namun kali ini Nea memilih untuk menyimpannya dan mengakhiri sesi perbincangannya dengan Pak Daska. Sehingga, “Saya mengerti, Pak. Saya selalu berusaha menjaga diri saja dan terima kasih atas kepedulian Bapak.”
Setelah mengatakan itu, Nea kembali berbalik dan pergi dari ruangan Pak Daska. Tentu saja dengan pikiran yang berkecamuk, riuh, dan penuh.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 21.35. Lampu belajar menyala redup, menyisakan cahaya kekuningan yang temaram. Mi instan di mangkuk sudah setengah habis, uapnya masih mengepul tipis. Nea duduk selonjor di atas kasur, dengan kaus oblong putih bertuliskan ‘Be smart, be confident’, celana pendek, dan rambut dicepol asal. Film yang ia tonton di Netflix menunjukan durasi setengah jalan tapi Fokus Nea tentu tidak di sana.
Yang ada di kepalanya saat ini hanya satu, siapa wanita yang tadi siang itu? Nea menggigit bibir bawah, pelan-pelan menaruh garpu yang sedari tadi di ganggamnya kembali ke mangkuk.
“Jangan-jangan... itu ... bener istrinya?” bisiknya lirih.
“Kalau iya… yaampuuun berarti waktu itu? Malam itu... gue...” Nea melongo, napasnya tertahan.
Tangannya langsung nutup muka.
“ASTAGA GUE ... GUE TIDUR SAMA—AAAAAAA!”
Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir di kamar, panik sendiri.
“Oh no no no, Nea… Ya ampun! Ya Tuhan! Gimana kalau istrinya tahu dan menganggap gue orang ketiga? Terus tadi dia pura-pura nggak kenal sama gue padahal—Oh my god!”
Saat sedang panik-paniknya, ponsel Nea tiba-tiba bergetar di kasur. Layarnya menyala.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Nea, tolong kirim revisi Bab 1 malam ini ya. Lebih cepat lebih baik, supaya saya bisa review besok pagi.
Nea bengong. “Ini serius Pak Daska nge-chat malem-malem gini?”
“Tapi ya waktu itu juga jam segini, sih. Nelpon malah,” ujarnya lagi, mengingat kejadian saat dirinya terkena omel oleh Pak Daska di telepon perihal revisi bab 1 nya yang berantakan.
Masih dengan jantung yang belum stabil, Nea buru-buru meng-klik icon x di pojok kanan atas yang membuat film yang sedari terputar, menghilang. Ia beralih pada dokumen dan membuka draft bab 1 yang beruntungnya sudah sempat ia perbaiko sore tadi. Setelah memastikan draftnya siap, Nea kemudian mengirimnya via email. Dan ya, selesai. Ia kemudian mengambil ponsel lalu membalas pesan dati pak Daska.
Serenea Elaris
Pak, saya sudah mengirimnya via email.
Tak lama, satu pesan kembali muncul. Balasan dari Pak Daska.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Terima kasih. Kamu cukup cepat. Saya suka cara kamu menangkap arahan revisi.
Serenea Elaris
Terimakasih kembali Pak Daska
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
By the way, kenapa kamu pilih topik itu, Nea? Tentang social anxiety dan media sosial?
Nea menggaruk kepala, bingung harus menjawab apa. Dan lagi dia mulai bertanya, apakah obrolan ini termasuk hal yang umum? Apakah dosen pembimbing lain juga melakukan hal yang sama? Bertanya pada mahasiswa bimbingannya pada obrolan santai di ruang obrolan dan di luar jam bimbingan?
Meski begitu, Nea tetap menjawabnya.
Serenea Elaris
Mengamati hal yang terjadi disekitar saya, teman-teman saya. Banyak yang mengalami, Pak. Kelihatannya aktif banget di media sosial, tapi aslinya susah sosialisasi. Menarik aja sih diliat dari sisi psikologi.
Balasan datang lagi, cepat.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Menarik. Lalu, kamu termasuk yang mana?
Online aktif, tapi diam di dunia nyata?
Nea menahan napas. Ini udah bukan tanya-jawab akademis, kan? Tapi anehnya, Nea tetap mengetik pesan balasan.
Serenea Elaris
Mungkin keduanya? Tergantung siapa yang mengajak ngobrol sih, Pak.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Kalau saya yang ngajak?
Kamu masih nyaman ngobrol, meski udah lewat jam 10 malam?
Nea melotot ke layar. What the hell?!
Tangannya refleks ngetik cepat.
Serenea Elaris
Harusnya saya bukan sih, Pak, yang bertanya? Pak Daska gak takut diomelin istri gara-gara masih chat sama mahasiswa bimbingan?
Beberapa detik hening.
Lalu, tanda “mengetik...” muncul di laman obrolan.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Kenapa kamu beranggapan sampai ke sana?
Nea tercenung. “Oke. Oke. Tunggu. Jangan bingung Serenea ... tenang ... tenang ... Oke ...”
Serenea Elaris
Saya cuma nebak sih.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Ini tentang wanita yang kamu lihat tadi siang keluar dari ruangan saya?
Nea kembali tersentak. Bagaimana bisa Pak Daska tahu apa yang sedang dipikirkan oleh dirinya? Lalu, ia dengan cepat mengetik pesan balasan.
Serenea Elaris
Saya bilang saya cuman nebak, Pak.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Apakah itu yang mengganggu pikiran kamu saat ini? Kamu mulai beranggapan jika malam itu yang bersama kamu adalah pria beristri?
Membaca balasan itu, Nea refleks menggigit bibir bawahnya. Apakah saat ini profesi Pak Daska merangkap sebagai cenayang juga? Bagaimana mungkin ia bisa tahu isi pikiran Nea?
Jujur, sekarang ia benar-benar bingung harus membalas apa. Atau tidak perlu dibalas sekalian? Lagipula tidak ada kewajiban bagi dirinya untuk membalas pesan tersebut, bukan?
Disaat kegamangannya itu melanda, satu pesan baru kembali muncul di ruang obrolan yang masih menyala.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Berhenti memikirkan banyak hal yang membuat kepalamu riuh, Nea. Fokus kamu saat ini adalah bersama saya.
Satu pesan kembali masuk.
Dosen Pembimbing 1 — Pak Edgara Daskarendra
Ah, maksud saya bimbingan bersama saya. Seleaaikan skripsi kamu tepat waktu. U got it?
Apaan, sih?! Apa maksudnya coba?! Namun, meski begitu Nea tetap membalas pesan tersebut.
Serenea Elaris
Got it, Pak.
Dan, ya. Tidak ada balasan lagi setelah chat itu.
Nea meletakkan ponsel di atas meja belajarnya di samping tempat tidurnya. Matanya menatap lurus ke dinding putih di hadapannya, seolah sedang berharap ada jawaban muncul dari sana. Tapi yang ada, hanya bayangan samar wajah Pak Daska—datar, misterius, dan sulit ditebak.
“Apa sih maksudnya barusan?” gumamnya lirih, tangannya ikut menopang dagu sambil isi kepalanya memutar ulang isi chat yang baru saja selesai.
‘Fokus kamu saat ini adalah bersama saya.
Ah, maksud saya bimbingan bersama saya.’
Serena mengerutkan kening lalu beralih memeluk guling kecil di pangkuannya. “Kenapa sih kalimat-kalimat ambigu Pak Daska tuh selalu bikin gue mikir keras?!”
Dia mendesah panjang. Di sisi lain, wanita yang tadi siang keluar dari ruangan Pak Daska dan terlihat akrab itu masih berputar di benaknya, begitu juga pertanyaan-pertanyaan yang belum juga ia dapatkan jawabannya. Siapa wanita itu? Kenapa keluar dari ruangan Pak Daska? Apa hubungan diantara mereka?
Nea menggigit ujung gulingnya. “Gila sih... gue beneran harus cepet-cepet lulus. Kalo enggak, bisa-bisa kepala gue meledak sendiri cuma karena mikirin ini semua!”
“Iya, bener. Makin cepet gue lulus, makin baik. Gue nggak akan ketemu lagi sama Pak Daska. Yeaayyyy!” ia bersorak senang. Seolah baru saja menemukan jalan keluar.
Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, ia tahu. Makin ia berusaha menghindar, makin dalam ia terseret dalam rasa penasaran itu. Dan semakin misterius Pak Daska bersikap... semakin sulit baginya untuk tidak mencari tahu. Kejelasan ... Itu tetap perlu.
Sialan!
***