Suasa Lumina’s coffee di sore hari mulai hangat dan ramai dipenuhi oleh orang-orang yang melepas lelah sehabis kerja. Anak-anak muda yang sibuk dengan setumpuk tugas kuliah, dan muda-mudi yang sekedar berkumpul untuk menghabiskan waktu, bercanda gurau dan beberapa lagi melepas rindu. Nea duduk diantara orang-orang di sana, masih dengan pakaian kerja yang membungkus tubuh lelahnya. Di hadapannya ada Wena yang seperti biasa, selalu terlihat anggun dan lembut meski kali ini wajahnya menampilkan keresahan yang begitu kentara, seolah apa yang akan disampaikan Wena, bukan sesuatu yang sederhana. “Terima kasih ya, sudah menyanggupi untuk bertemu,” ucap Wena akhirnya, membuka suara. Senyum hangat tercetak di bibirnya namun bukan hangat yang biasa. Seperti ada campuran getir yang menyelimutinya

