“Nea ... Maaf jika aku lancang tapi ... apakah kamu—sebenarnya tidak benar-benar mencintai Mas Edgran?” Nea tertegun. Bagaimana bisa Wena menduga sampai ke sana? Bagaimana kebenaran itu bisa sampai terendus olehnya? Apakah terlalu kentara? Apakah ada kesalahan dalam cara Nea menjawab pertanyaan Wena barusan? Lama Nea memandangi wanita di hadapannya, mencari-cari, tampak ragu. Namun tidak ada dari Wena yang membuatnya merasa akan di caci maki atau di hakimi habis-habisan, sehingga ... “Boleh tahu kenapa Mbak berkata demikian?” Wena tersenyum tipis. “Aku bisa melihatnya. Boleh tahu kenapa?” Ucapan itu ia kembalikan, serupa cermin yang memantulkan kejujuran. “Mbak ....” Kini, jemari Wena yang bergerak pelan, menggenggam tangan Nea sehangat pagi yang menenangkan badai malam. Sebuah is

