“Hargai aku yang sedang berusaha untuk meraih bahagiaku sendiri dengan kamu yang bukan lagi alasannya.” —— Langit sudah lama gelap saat Nea menatap layar laptopnya yang mulai buram oleh kelelahan. Jam digital di pojok kanan bawah layar menunjukkan pukul 21.48. Lira sudah pamit sejak setengah jam lalu, begitu juga Arfan dan Edgran yang pulang setelah meeting sore. Hanya ia yang masih bertahan, berkutat dengan laporan asesmen individu yang belum rampung. Meja kantornya berantakan oleh kertas catatan, sticky note warna-warni, dan gelas kopi yang tinggal setengah, dingin. Sesekali ia merapikan anak rambut yang jatuh, mengikat ulang kuncirnya dengan gerakan asal. Tapi fokusnya tidak benar-benar utuh. Ia mendengar setiap detik yang lewat, setiap derit kecil dari ventilasi, setiap langkah yan

