Aroma kopi pagi itu menguar dari dalam pantry coffe shop yang berada di lantai dasar gedung Daskarendra Corp. Cahaya matahari belum menembus sepenuhnya kaca-kaca tinggi, menyisakan rona redup yang terasa sendu. Dengan kemeja maroon dan rok span hitam selutut yang membingkai tubuhnya, Nea berdiri sendiri di depan meja bar, menunggu pesanannya. Rambutnya tergerai bebas, berkilau lembut dalam warna gelap yang nyaris legam, dengan poni depan yang baru dipotong seminggu lalu—sebuah perubahan kecil yang ia pilih tanpa alasan jelas, mungkin hanya untuk merasa berbeda? "Sendirian aja?" Suara itu menghentikan pikirannya. Ia menoleh pelan. Pria itu berdiri tak jauh dari sisinya, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan tergulung, dasi longgar, dan ikut memesan kopi. Daska. Sehangat yang ia in

