Cahaya kekuningan dari lampu ruang rapat masih menyinari wajah-wajah yang lelah dan hati-hati yang koyak. Hujan tak kunjung reda, iramanya menyatu dengan degup jantung yang tak beraturan. Di luar, kota tenggelam dalam basah dan diam. Tapi di dalam ruangan itu, badai telah lebih dulu datang—dan menghantam keduanya dengan cara yang berbeda. “Apa itu alasan kamu menangis tadi pagi? Karena aku?” “Ya.” “Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?” Nea mengangguk. “Ada.” “Katakan?” “Aku ingin mencium Mas. Untuk yang terakhir kali. May I?” Daska terdiam. Sorot matanya membeku dalam keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan. Bibirnya terkatup rapat, seolah tengah menimbang sesuatu yang tak semestinya dibuka kembali. Namun, di hadapannya, Nea berdiri dengan hati yang terbuka, menantang segala logik

