Aula utama fakultas Psikologi tampak semarak siang itu. Sorot lampu dari atas panggung menerpa latar belakang bertuliskan “Mental Health for Gen Z: From Awareness to Action.” Mahasiswa dan dosen masih hilir-mudik, sebagian mengantre untuk foto bersama sang pembicara yang kini berdiri di samping panitia dengan senyum ramah dan sedikit lelah. Nea menurunkan mikrofon dari telinga, menyapukan tangan ke keningnya yang sedikit berkeringat. Wajahnya lega. Seminar berjalan lancar dan audiens pun tampak antusias. Kampus ini, tempat ia dulu menuntut ilmu, kini menyambutnya kembali sebagai seorang profesional. Tapi, justru di titik itulah perasaan getir merambat diam-diam—karena hari ini juga akan menjadi titik perpisahan dalam diam. Baru saja Nea melangkah turun dari panggung kecil itu, suara lemb

