Tak lama kemudian, pintu ruang kerja Hendrik diketuk perlahan. Bella masuk dengan senyum yang terlalu manis untuk disebut tulus. "Mas Hendrik kenapa sampai teriak-teriak begitu? Anak-anak bisa dengar, lho," ujar Bella seraya meletakkan secangkir kopi di meja. "Mereka 'kan ada di lantai dua dan sedang bermain game di kamar, sudah pasti tidak akan mendengar teriakanku," kata Hendrik setelah menghela napas panjang. Bella menyipitkan mata, tak tahan lagi menyimpan kekesalannya. Wanita itu lantas menyemburkan emosinya. "Mas Hendrik! Kenapa Mas berkata seperti itu? Ini semua pasti karena Amara berbuat onar." "Bella! Jangan memancing kesabaranku! Biar bagaimanapun juga, Amara itu adalah anakku!" bentak Hendrik yang membuat Bella terkesiap. "Mas Hendrik jahat!" sahut Bella yang bergegas kelu

