Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela hotel, menciptakan garis-garis lembut di lantai kayu kamar mereka. Lily membuka matanya perlahan, menahan sisa kantuk dari malam sebelumnya. Ia merasakan tubuhnya masih hangat dari keintiman semalam, tapi ia tahu hari ini adalah tentang pekerjaan. Ia menarik napas panjang, mencoba menyusun pikirannya agar tetap profesional. Perlahan, ia bangkit, menata rambut dan pakaian, menyiapkan dirinya untuk pertemuan dengan klien yang penting. Setiap gerakan terasa sedikit canggung — kesadaran bahwa Ethan berada di ruangan yang sama membuat hatinya berdebar, namun ia menekannya. Ethan muncul dari kamar mandi dengan kemeja putih rapi, rambut sedikit berantakan, dan senyum tipis yang selalu membuat Lily tersentak. “Selamat pagi,” ucap Ethan, suaranya t

